PDAM
Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Musim kemarau telah terjadi di Denpasar dan sekitarnya. Kekurangan air bersih pun menjadi ancaman. Sebagai langkah antisipasi Perumda Air Minum Sewakadarma atau PDAM Denpasar mulai melakukan beberapa upaya.

Dirut Perumda Air Minum Denpasar, I Putu Yasa, Jumat (17/7) mengungkapkan debit air saat ini masih berada dalam batas normal. Saat ini, total produksi air di Denpasar baik dari air permukaan, 18 sumur dalam, maupun pasokan SPAM Regional Petanu dan Penet, baru mencapai 1.400 liter per detik.

Rinciannya yakni Instalasi Pengolahan Air (IPA) Belusung dengan izin Surat Izin Pemanfaatan Air (SIPA) sebesar 600 liter per detik dan kapasitas produksi 550 liter per detik, serta IPA Waribang 1 dan Waribang 2 yang memiliki total kapasitas 300 liter per detik. Sedangkan untuk 18 titik sumur dalam bawah tanah yang menyumbang kapasitas total sebesar 350 liter per detik.

Baca juga:  Diserempet Tronton di Jalan Cokroaminoto, Mobil Tabrak Motor dan Neon Box 

Selain itu, aliran air dari SPAM Petanu baru terealisasi sekitar 60 hingga 70 liter per detik dari target kapasitas MoU sebesar 150 liter per detik, dan dari SPAM Penet baru mampu mengalirkan 40 hingga 50 liter per detik dari komitmen awal yang juga sebesar 150 liter per detik. “Sementara pada jam-jam puncak, kebutuhan riil masyarakat Denpasar mencapai 1.550 liter per detik,” katanya,

Meski demikian, PDAM mulai melakukan upaya antisipasi gangguan saat musim kemarau terlebih ancaman El Nino. Pertama PDAM Denpasar berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, dimana, untuk melakukan pengerukan sedimen di bendung-bendung kritis, khususnya di sekitar intake IPA Belusung dan IPA Waribang.

Langkah jangka panjang dilakukan dengan skema CSR untuk menjaga hutan di hulu. “Kami melakukan pelestarian catchment area (daerah tangkapan air) di sektor hulu. Bekerja sama dengan Dinas Kehutanan, dengan melakukan CSR bagi kelompok-kelompok pemerhati lingkungan yang menjaga kelestarian hutan,” katanya.

Baca juga:  Pencemaran di Danau Beratan Masuk Level Sedang

Sedangkan di wilayah hilir adalah memperbanyak pembuatan sumur resapan. Keberadaan sumur resapan ini berfungsi menahan laju air hujan agar tidak langsung terbuang ke sungai dan laut, melainkan meresap kembali ke dalam tanah sebagai cadangan air baku. “Kami juga melakukan koordinasi dengan BMKG untuk membaca arah dan intensitas musim kering ke depan,” paparnya.

Selain itu, untuk antisipasi musim kemarau, pihaknya juga bekerjasama dengan penjaga-penjaga bendung, mulai Bendungan Mambal, hingga Kedewatan.Hal ini untuk memastikan pengaturan aliran air yang ke subak agar tak mengganggu petani dan juga tak mengganggu kebutuhan Perumda.

Baca juga:  Diduga Pengemudi Mabuk, Mobil Tabrak Jembatan

Terkait penyusutan air di puncak musim kemarau, jika dilihat dari siklus mulai tahun 2017 biasanya sampai 35 persen. “Makanya kami lakukan koordinasi kepada semua pihak. Seandainya parah sekali ya kita akan melakukan pengaturan-pengaturan pengaliran. Sehingga nanti masyarakatnya tetap mendapatkan air walaupun dengan tekanan yang pasti berkurang karena produksi kita menurun. Tapi kami berharap tak sampai terjadi,” jelasnya.

Untuk daerah rawan gangguan air terletak di kawasan yang lebih tinggi seperti Padangsambian Kaja yang paling utara, Denpasar Barat seperti Jalan Gunung Soputan dan sekitarnya. Dengan jumlah pelanggan mencapai 95 ribu sambungan baik rumah tangga hingga usaha, pihaknya menyiapkan 5 mobil tangki untuk antisipasi gangguan pengaliran.

Masing-masing mobil tersebut memiliki kapasitas 5.000 liter. “Kami juga mengimbau masyarakat untuk membuat bak penampungan untuk antisipasi gangguan pengaliran air,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN