Gubernur Bali, Wayan Koster. (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali resmi meluncurkan Program Pengabdian Masyarakat Desa Kerthi Bali Sejahtera 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Rabu (15/7) malam.

Program yang melibatkan lebih dari 12.000 mahasiswa dari 38 perguruan tinggi ini diharapkan menjadi penggerak percepatan pembangunan desa berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Peluncuran dilakukan Gubernur Bali, Wayan Koster bersama seluruh pimpinan perguruan tinggi dengan pemukulan kulkul sebagai tanda dimulainya program. Hadir dalam kesempatan tersebut Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., para pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta di Bali, bupati dan wali kota se-Bali, kepala perangkat daerah, Bendesa Agung, serta para bendesa adat.

Sejak pukul 16.00 Wita, ribuan mahasiswa berdatangan mengenakan almamater kampus masing-masing hingga memenuhi seluruh tribun Panggung Terbuka Ardha Candra. Bahkan, panitia menyediakan area tambahan di depan panggung yang dilengkapi layar lebar karena kapasitas tribun tidak lagi mencukupi. Suasana semakin semarak dengan penampilan penyanyi Bagus Wirata sebelum acara dimulai.

Program ini melibatkan sedikitnya 38 perguruan tinggi dengan dukungan lebih dari 900 dosen pembimbing lapangan. Para mahasiswa akan diterjunkan ke desa-desa di seluruh Bali untuk membantu penyelesaian berbagai persoalan pembangunan sekaligus mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendiktisaintek, Prof. I Ketut Adnyana, menyatakan pemerintah pusat memberikan dukungan penuh terhadap program yang digagas Pemerintah Provinsi Bali tersebut. Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan berbagai program pengabdian masyarakat yang dikembangkan Kemendiktisaintek.

Baca juga:  Ini Sebabnya, Puluhan Pohon Perindang di By Pass Ngurah Rai Ditebangi

Ia mengaku terharu melihat sekitar 10 ribu lebih mahasiswa hadir dalam peluncuran program tersebut. Sebelumnya, Kemendiktisaintek telah menjalankan Program Mahasiswa Berdampak di Sumatera yang melibatkan sekitar 10.090 mahasiswa selama hampir tiga bulan untuk membantu masyarakat terdampak bencana. Program serupa juga baru diluncurkan di Nusa Tenggara Timur dengan melibatkan sekitar 2.000 mahasiswa.

“Kami sangat bangga hadir di Bali dan mendukung penuh program pengabdian masyarakat yang digagas Pak Gubernur karena sangat sejalan dengan program di kementerian,” ujarnya.

Adnyana menjelaskan, Kemendiktisaintek saat ini mengalokasikan anggaran lebih dari Rp300 miliar untuk berbagai program pengabdian masyarakat. Dalam waktu dekat, kementerian juga akan meluncurkan program Mahasiswa Berdampak Aksara Mahasiswa.

Menurutnya, terdapat dua fokus utama program nasional tersebut, yakni penanganan persoalan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), kawasan rawan bencana, kemiskinan ekstrem, dan stunting, serta penanganan persoalan sampah.

Ia menilai panduan Program Desa Kerthi Bali Sejahtera sangat selaras dengan kebijakan pemerintah pusat yang menjadikan Bali sebagai salah satu dari empat wilayah prioritas nasional dalam penanganan sampah bersama Jakarta, Bogor, dan Bandung.

“Kami berharap seluruh potensi perguruan tinggi di Bali dapat dirangkul. Kami mendapat laporan terdapat 51 perguruan tinggi negeri dan swasta di Bali. Saya yakin berbagai persoalan di Bali dapat diselesaikan berbasis sains, teknologi, dan inovasi,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Koster menegaskan Program Pengabdian Masyarakat Desa Kerthi Bali Sejahtera bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah konkret mempercepat pembangunan Bali berbasis desa.

Baca juga:  SMKN 2 Jembrana Dibobol Maling Brankas Dicongkel

Menurut Koster, pembangunan Bali harus tumbuh dari desa sebagai akar kehidupan masyarakat, bukan hanya terpusat di kawasan perkotaan maupun destinasi pariwisata.

“Ini adalah jembatan pengabdian untuk membumikan arah pembangunan Bali. Kita ingin memastikan pembangunan Bali tumbuh dari desa karena desa adalah fondasi utama Bali,” tegasnya.

Ia menjelaskan, program tersebut merupakan implementasi visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru. Melalui program ini, nilai-nilai Sat Kerthi diintegrasikan ke dalam kegiatan nyata di masyarakat, meliputi Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi.

Koster menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, pelaksanaan program tidak boleh dipandang hanya sebagai Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau pemenuhan kewajiban akademik semata.

“Program ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang disinergikan dengan arah kebijakan pembangunan Provinsi Bali agar pembangunan berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran,” ujarnya.

Koster mengapresiasi keterlibatan 38 perguruan tinggi yang mengirimkan lebih dari 12 ribu mahasiswa serta lebih dari 900 dosen pembimbing lapangan. Menurutnya, kekuatan intelektual tersebut akan menjadi modal besar dalam membantu masyarakat desa menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.

Ia juga berpesan agar mahasiswa hadir sebagai pembelajar yang rendah hati, mampu mendengar dan bekerja sama dengan masyarakat, menjadi problem solver melalui penerapan ilmu pengetahuan, melahirkan berbagai inovasi yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa, serta menjadi calon pemimpin masa depan yang berintegritas dan memiliki semangat gotong royong.

Baca juga:  Dari Polisi Gerebek Istrinya Selingkuh di Villa hingga Gria Pemedilan Terbakar

Program Desa Kerthi Bali Sejahtera difokuskan untuk mempercepat berbagai program prioritas Pemerintah Provinsi Bali, antara lain pengelolaan sampah berbasis sumber, Gerakan Bali Bersih Sampah, pembatasan sampah plastik sekali pakai, pelindungan danau, mata air, sungai dan laut, penguatan pertanian organik, penggunaan produk lokal Bali, pengembangan UMKM dan ekonomi desa, pelestarian adat, seni budaya, bahasa, aksara, serta kain tenun Bali.

Selain itu, program juga mendukung Program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) serta pemberian insentif bagi keluarga Nyoman dan Ketut sebagai upaya melestarikan kearifan lokal Bali.

Dalam kesempatan itu, Koster mengingatkan bahwa jumlah masyarakat dengan nama Nyoman dan Ketut kini hanya sekitar 4,5 persen sehingga perlu dijaga keberlangsungannya melalui berbagai kebijakan pemerintah.

“Kalau tidak dijaga, Nyoman dan Ketut bisa punah dalam beberapa tahun ke depan. Mulai tahun ini sudah diberikan berbagai insentif yang didata melalui desa-desa, terutama bagi keluarga kurang mampu. Ini adalah bagian dari menjaga warisan leluhur Bali,” katanya.

Koster menyebut peluncuran program ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya 38 perguruan tinggi di Bali berkolaborasi dalam satu gerakan besar pengabdian masyarakat untuk mempercepat pembangunan desa.

Ia berharap gerakan tersebut dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan sehingga mampu mewujudkan desa yang maju, masyarakat yang sejahtera, lingkungan yang lestari, ekonomi yang berdikari, serta Bali yang semakin kokoh di masa depan. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN