FGD ISI Bali bersama BRIDA Bali terkait “Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali”, di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI Bali, Senin (13/7). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Menjelang peringatan 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali pada 2027, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan industri pariwisata dan pelestarian budaya. Refleksi tersebut menjadi fokus dalam Focus Group Discussion (FGD) “Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali” yang digelar bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI Bali, Senin (13/7).

Kepala BRIDA Provinsi Bali, Dr. Ketut Wica, mengatakan momentum satu abad Kepariwisataan Budaya Bali harus dimanfaatkan untuk mengevaluasi arah pembangunan pariwisata di Pulau Dewata. Menurutnya, kajian yang tengah disusun BRIDA bersama ISI Bali bertujuan memastikan pariwisata Bali tetap berpijak pada budaya, bukan semata-mata mengejar kepentingan ekonomi.

“Tentu kita harus merefleksikan pariwisata budaya Bali. Jangan sampai kita terus berbicara pariwisata budaya, tetapi perlu dipertanyakan apakah pariwisata kita saat ini masih berbasis budaya atau hanya menjadi slogan. Karena itu, kita perlu melakukan refleksi secara menyeluruh,” ujar Wica saat diwawancara, Selasa (14/7).

Baca juga:  Salah, Persepsi Wine Impor Lebih Baik dari Lokal

Ia menjelaskan, kajian tersebut menelusuri kembali sejarah awal berkembangnya pariwisata budaya Bali. Berdasarkan berbagai dokumen sejarah dan keterangan para narasumber, BRIDA menemukan benang merah bahwa tahun 1927 menjadi tonggak awal berkembangnya pariwisata berbasis budaya di Bali.

Saat itu, kata Wica, kedatangan seniman asing yaitu Walter Spies bersama sejumlah tokoh dunia seni lainnya menjadi momentum penting. Kehadiran mereka, yang difasilitasi oleh kalangan Puri Ubud, mendorong berkembangnya pertunjukan seni, kerajinan, hingga lahirnya nilai ekonomi dari aktivitas budaya masyarakat.

“Mulai saat itu tamu-tamu yang datang ke Puri Ubud diberikan cenderamata, masyarakat mulai memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan budaya yang mereka lakukan. Bahkan berbagai pertunjukan seni mulai berkembang dan menjadi daya tarik wisata,” jelasnya.

Selain Walter Spies, kajian tersebut juga menelusuri jejak tokoh-tokoh seperti Willem Hofker, Adrien-Jean Le Mayeur, hingga perkembangan hotel-hotel pertama di Bali yang turut menandai mulai bergeliatnya industri pariwisata di Pulau Dewata.

Wica menegaskan, refleksi sejarah tersebut bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjadi pijakan dalam merumuskan arah kebijakan pembangunan pariwisata Bali ke depan.

Baca juga:  Sebulan Kelola Sentra HAKI, BRIDA Bangli Daftarkan 41 Hak Cipta

“Jangan sampai pariwisata Bali dijual dengan murah hanya karena berpikir ekonomi. Budaya harus menjadi basis utama pariwisata. Itu yang ingin kita pastikan melalui kajian ini,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan, sejarah membuktikan bahwa pariwisata Bali tidak dibangun melalui pendekatan industri semata, melainkan tumbuh secara alami dari kehidupan masyarakat yang sarat dengan nilai seni, adat, tradisi, dan spiritualitas.

Karena itu, BRIDA bersama ISI Bali berupaya menyusun kajian ilmiah yang menelusuri kembali perjalanan sejarah pariwisata Bali, dengan menjadikan tahun 1927 sebagai salah satu tonggak penting ketika hubungan antara seniman Bali, kalangan puri, dan tokoh-tokoh internasional mulai membuka Bali ke panggung dunia.

Menurut Wica, BRIDA bersama ISI Bali membuka ruang seluas-luasnya bagi akademisi, budayawan, sejarawan, tokoh masyarakat, hingga insan media untuk memberikan masukan dan data pendukung agar hasil kajian benar-benar komprehensif.

Seluruh dokumen sejarah, baik yang berada di Indonesia maupun luar negeri, terus ditelusuri. BRIDA juga menggali informasi dari keluarga Puri Ubud yang masih menyimpan berbagai catatan sejarah mengenai perkembangan awal pariwisata Bali.

Baca juga:  Pergelaran Intermedium Ananta–Mahaboga–Anantya

“Kami tidak ingin terburu-buru menyimpulkan apakah pariwisata Bali saat ini sudah bergeser dari budaya menjadi semata-mata ekonomi. Karena itu kajian ini diserahkan kepada perguruan tinggi agar hasilnya objektif dan dapat menjadi dasar kebijakan pemerintah,” katanya.

Ia menambahkan, hasil kajian tersebut ditargetkan rampung dalam waktu sekitar satu bulan ke depan sehingga dapat menjadi landasan penyusunan rangkaian kegiatan peringatan 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali yang akan dimulai pada Januari 2027.

Wica mengungkapkan, inisiatif refleksi awalnya berkembang dari keinginan masyarakat Ubud untuk memperingati satu abad pariwisata budaya. Namun, Gubernur Bali Wayan Koster mengarahkan agar momentum tersebut diperluas menjadi refleksi bagi seluruh Bali.

“Harapan kami, hasil kajian ini menjadi dasar bagi pimpinan dalam mengambil kebijakan sehingga peringatan 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali pada 2027 benar-benar memiliki landasan akademis yang kuat. Yang paling penting, roh pariwisata Bali tetap budaya Bali,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN