Suasana di Kampus ISI Bali saat pelaksanaan UTBK-SNBT 2026 hari pertama, Selasa (21/4). (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Suasana Selasa pagi (21/4) di halaman IInstitut Seni Indonesia (ISI) Bali terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya lalu lalang mahasiswa seni dan riuh aktivitas kampus, ratusan muka-muka asing datang ke kampus yang berlokasi di Jl. Nusa Indah, Denpasar itu.

Mereka adalah peserta yang akan mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di hari pertama. Calon mahasiswa ini ada yang datang sendiri, bergerombol, maupun diantar orangtuanya.

Ya … hari ini menjadi hari pertama ujian nasional berbasis komputer itu digelar. Sebelum pukul 08.00 WITA, peserta sudah berdatangan.
Mereka khawatir telat sehingga datang lebih awal, bahkan ada yang memilih menginap sehari di Denpasar karena kediamannya jauh dari tempat tes.

Sebagian tampak membuka kembali catatan di ponsel sebelum akhirnya disimpan karena waktu sudah menunjukkan peserta harus masuk ke ruangannya masing-masing.

Baca juga:  Satpol PP Tertibkan Gepeng “Manusia Silver”

Sebanyak 300 peserta menjalani ujian di hari pertama, terbagi dalam dua sesi. Sesi pagi diikuti 150 orang, disusul sesi siang dengan jumlah yang sama.

Namun angka itu hanyalah sebagian kecil dari total 3.608 peserta yang akan mengikuti ujian di kampus ini hingga 27 April 2026.

Di antara kerumunan itu, Ida Ayu Megawati (52) bersama suaminya, Ngurah Boyke (52) yang keduanya aparatur sipil negara asal Klungkung, mengantar putri bungsunya, Caya Dewi (18). Mereka bahkan memilih menginap di Denpasar demi menghindari risiko keterlambatan.

“Kami dari Kemoning, Klungkung, tapi kemarin sudah ke Denpasar. Takut terburu-buru,” ujarnya singkat, sembari menatap ke arah gedung ujian.

Caya, siswi SMA Negeri 1 Klungkung, menaruh harapan besar pada ujian ini. Pilihan pertamanya adalah Program Studi Kedokteran Gigi di Universitas Udayana, disusul Kedokteran di Universitas Mataram. Berbulan-bulan ia mempersiapkan diri, termasuk mengikuti bimbingan belajar di Ruangguru cabang Gianyar.

Baca juga:  Jaga Kebersihan Pantai, Tentara Sasar Sampah Plastik

“Semoga bisa lulus sesuai harapan,” ucapnya pelan sebelum memasuki ruang ujian.

Terpisah, Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana, menjelaskan bahwa pihak kampus menyiapkan sepuluh ruang laboratorium komputer. Di setiap ruangan, tiga peran siaga. Yakni, penanggung jawab ruang, pengawas ujian, dan teknisi.

Mereka bukan sekadar memastikan perangkat berfungsi, tetapi juga menjaga kepercayaan publik terhadap proses seleksi yang transparan dan akuntabel.

UTBK-SNBT tahun ini menitikberatkan pada kemampuan bernalar melalui Tes Potensi Skolastik (TPS), literasi bahasa Indonesia dan Inggris, serta penalaran matematika—sebuah pendekatan yang menuntut peserta berpikir kritis, bukan sekadar mengingat.

Baca juga:  Begini, SOP Penanganan Evakuasi WN Tiongkok dari Bali

Dari pantauan, selama peserta menjalani tes, tampak sejumlah orangtua menunggu dengan sabar, menggenggam harapan yang sama besarnya dengan anak-anak mereka.

Aturan ketat mengiringi setiap langkah. Peserta wajib datang lebih awal, berpakaian rapi, dan bersepatu. Tak ada ruang untuk keterlambatan.

Satu menit setelah ujian dimulai, kesempatan bisa hilang. Barang pribadi seperti ponsel, buku, hingga jam tangan harus dititipkan. Di dalam ruang ujian, yang tersisa hanyalah diri sendiri dan kemampuan yang dimiliki.

Tak ada komunikasi, tak ada kerja sama. Hanya kejujuran yang menjadi pegangan.

Tes yang berlangsung selama 3 jam dan 15 menit ini tak cuma menjadi bukti ketekunan dan ilmu yang sudah mereka pelajari selama 3 tahun di tingkat sekolah menengah atas (SMA), tetapi juga integritas serta masa depan yang mereka impikan. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN