Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, didampingi Gubernur Bali Wayan Koster menyerahkan penghargaan kepada 10 desa yang dinilai berhasil menerapkan pemilahan sampah dari sumber saat Apel Siaga Pilah Sampah, Selasa (7/7) di Lapangan Renon, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Apel Siaga Pilah Sampah digelar Selasa (7/7) di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Denpasar.

Dalam kegiatan itu, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, didampingi Gubernur Bali Wayan Koster menyerahkan penghargaan kepada 10 desa yang dinilai berhasil menerapkan pemilahan sampah dari sumber.

Sepuluh desa penerima penghargaan yakni Desa Sanur Kauh, Tegal Kertha, Kuta, Gulingan, Plaga, Taro, Bengkel, Baktiseraga, Cemenggaon, dan Padangtegal. Gerakan Siaga Pilah Sampah kemudian secara simbolis ditandai dengan pemukulan kulkul.

Hanif mengingatkan bahwa tantangan besar Bali saat ini adalah persoalan sampah yang mencapai sekitar 3.500 ton per hari dari jumlah penduduk sekitar 4,5 juta jiwa.

Baca juga:  Karena Ini, Sejumlah Bak Sampah di Kota Amlapura Dibongkar

Ia mengapresiasi berbagai langkah yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Bali, mulai dari deklarasi Bali Bebas Sampah pada April 2025 hingga deklarasi percepatan pengelolaan sampah bersama Menteri Lingkungan Hidup dan seluruh kepala daerah di Bali pada 10 Juni 2026.

“Hari ini kita melangkah lebih jauh lagi melalui Gerakan Pilah Sampah se-Bali. Berdasarkan data kami, Bali merupakan provinsi yang paling masif melakukan aksi pilah sampah di Indonesia, terutama Kota Denpasar dan Kabupaten Badung,” ujarnya.

Hanif juga mengingatkan pentingnya percepatan pengurangan sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), khususnya TPA Suwung yang pernah mengalami kebakaran besar pada 2023.

Baca juga:  Kunker ke Bali, Ini Dua Agenda Penting Presiden Jokowi

Menurutnya, sampah organik yang ditimbun di TPA menghasilkan gas metana yang mudah terbakar sehingga meningkatkan risiko kebakaran saat musim kemarau.

“Kita tidak ingin kejadian seperti kebakaran TPA Suwung terulang kembali. Bali adalah wajah Indonesia dan destinasi wisata dunia. Karena itu Bali bersih tidak bisa ditawar lagi,” tegasnya.

Hanif berharap seluruh pemerintah kabupaten/kota di Bali segera mempercepat pembangunan sistem pengelolaan sampah berbasis sumber sehingga target penyelesaian persoalan sampah di Bali dapat tercapai paling lambat Desember 2026.

Baca juga:  Arus Mudik Iduladha Mulai Padat di Gilimanuk, Armada Penyeberangan Ditambah

“Kami berharap Bali benar-benar mampu menyelesaikan persoalan sampahnya paling lambat Desember 2026. Langkah ini memang berat, tetapi menjadi sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan bersama,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Koster menegaskan bahwa pengelolaan sampah menjadi agenda penting untuk menjaga masa depan lingkungan Bali sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.

“Kami menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Bali sebagai tuan rumah Apel Siaga Pilah Sampah. Momentum ini sangat tepat karena Bali sedang bergerak secara masif dan konsisten menuju Bali bersih sampah,” ujar Koster. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN