I Nyoman Sumantra. (BP/Dokumen)

BANGLI, BALIPOST.com – Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Bangli I Nyoman Sumantra menyayangkan mandeknya operasional SMP Satu Atap (Satap) di Desa Subaya, Kintamani, selama hampir empat tahun terakhir. Berhentinya aktivitas belajar-mengajar akibat ketiadaan guru ini dinilai telah menyia-nyiakan investasi besar yang sudah ditanam pemerintah di wilayah pinggiran.

Sumantra menjelaskan bahwa sekolah tersebut dulu didirikan saat dirinya masih menjabat sebagai Kadisdikpora Bangli. Pembangunan sekolah satap yang kala itu dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Bali bertujuan menuntaskan Wajib Belajar 9 Tahun di daerah pinggiran seperti Subaya.

“Sangat menyayangkan sekolah Satap di Subaya tidak aktif karena sudah ada investasi pemerintah di sana. Tidak hanya material, tapi juga tertanam semangat teman-teman kita yang mencoba mengawali memperhatikan warga di pinggiran. Kalau itu dibiarkan kan kasihan sekali,” ujar Sumantra, Selasa (7/7).

Dia tak memungkiri masalah utama mandeknya operasional sekolah tersebut karena adanya hambatan pemerintah dalam menyediakan SDM, dengan kata lain terjadi kekurangan tenaga guru. Menurutnya masalah krisis guru tidak hanya terjadi di Bangli namun juga di daerah lain. Di sisi lain, ia juga menyoroti adanya pergeseran loyalitas tenaga pengajar yang saat ini cenderung enggan ditempatkan di daerah pelosok.

Baca juga:  Dewan Minta Pengawasan Kafe Diperketat

Akibat mandeknya operasional sekolah ini, anak di Subaya kini harus menempuh jarak 7 kilometer ke SMPN 7 Kintamani di Desa Sukawana. Jarak yang jauh ini membuat biaya pendidikan membengkak karena siswa wajib memiliki sepeda motor agar tidak putus sekolah.

Menyikapi kondisi tersebut, Sumantra mendorong Pemkab Bangli agar mencari solusi konkret guna mengaktifkan kembali sekolah itu sehingga siswa di Subaya tidak perlu menempuh jarak yang jauh untuk bersekolah. Misalnya dengan pemberian insentif khusus bagi guru yang bersedia ditempatkan di daerah pinggiran hingga pemanfaatan lulusan sarjana pendidikan yang masih menganggur. “Harus ada langkah out of the box kalau kita tidak ingin disebut menganaktirikan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dalam kondisi apa pun, pendidikan tidak boleh dinomorduakan. Oleh karena itu, menurutnya komitmen dan semangat seluruh komponen baik masyarakat maupun pemerintah selaku penyelenggara harus dibangun kembali untuk mengaktifkan sekolah tersebut.

Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya kondisi bangunan SMP Satu Atap (Satap) di Desa Subaya, Kintamani, Bangli, kini memprihatinkan. Gedung sekolah yang sudah lama tidak dipakai aktifitas belajar mengajar tersebut mengalami banyak kerusakan. Kerusakan parah terjadi pada bagian atas bangunan. Plafon di dalam ruangan banyak yang jebol. Begitu juga plafon bagian luar.

Baca juga:  Kesiapan Penglipuran Dikunjungi Delegasi WWF ke-10 Dicek

Penjabat Perbekel Subaya I Wayan Teka mengungkapkan sekolah tersebut memiliki tiga ruang kelas dan satu ruang perpustakaan. Tak hanya mengalami kerusakan pada bagian atap dan plafon, kondisi tembok bangunan juga retak-retak akibat dampak guncangan gempa bumi terdahulu.

Saat ini dua ruangan yang ada dimanfaatkan sebagai ruang kelas V dan gudang oleh SD setempat. Sementara satu ruangan digunakan untuk PAUD. “Bangunan perpustakaan yang posisinya terpisah tidak terpakai karena atapnya sudah hancur,” ujarnya diwawancara belum lama ini.

Dijelaskan bahwa SMP satap di Subaya sudah tidak aktif beroperasi sekitar 3-4 tahun terakhir. Lumpuhnya operasional sekolah tersebut bukan karena kekurangan murid, melainkan akibat ketiadaan tenaga pengajar.

Akibat kondisi itu, anak-anak lulusan SD di desa setempat terpaksa harus bersekolah ke SMP lainnya. Pilihan terdekat adalah SMPN 7 Kintamani di wilayah Desa Sukawana yang jaraknya sekitar 7 kilometer. Jarak yang cukup jauh membuat biaya pendidikan menjadi sangat mahal secara tidak langsung.

Baca juga:  300 Siswa di Kediri Tak Tertampung di Sekolah Negeri

“Untuk sekolah, anak-anak sekarang harus punya modal sepeda motor. Kalau tidak punya motor, otomatis mereka out (putus sekolah). Jadi syarat pertama kalau mau melanjutkan sekolah, harus punya sepeda motor,” ungkapnya.

Saat ini, pihak desa mencatat ada sekitar 30 anak di Subaya yang terpaksa menempuh jarak jauh demi bersekolah di SMPN 7 Kintamani. Sementara tahun ini ada sekitar 20 anak lulusan SD yang akan melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.

I Wayan Teka berharap pemerintah daerah menempatkan tenaga pengajar tetap, agar anak-anak setempat bisa kembali bersekolah di desa mereka sendiri tanpa harus menempuh jarak yang jauh. Harapan serupa juga disampaikan Windya warga Subaya. Dia berharap sekolah tersebut bisa diaktifkan kembali supaya siswa tidak harus jauh bersekolah.

“Ya kalau musim kemarau seperti sekarang. Kalau hujan angin, anak-anak tidak bisa sekolah. Apalagi kalau ada bencana pohon tumbang, longsor bisa satu Minggu tidak sekolah,” kata Windya. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN