Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Senin sore (22/6) melemah 39 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.843 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.804 per dolar AS. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore (2/7) melemah 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp17.995 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.952 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah imbas dari sentimen negatif dari domestik.

“Kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia dinilai menghadapi ujian cukup berat setelah munculnya sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal II, mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan Indonesia bulan Mei defisit, Inflasi melonjak hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI (Morgan Stanley Capital International),” ujarnya dilansir dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Prabowo dan PM Arab Saudi Tandatangani MoM DKT

Rilis S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026, tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun.

S&P mengungkapkan PMI Indonesia ini menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kesehatan sektor produksi barang.

“Headline menunjukkan penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu yang paling besar dalam setahun. Penyebab utama penurunan pada bulan Juni adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun,” ucap Ibrahim.

Baca juga:  Rupiah Ditutup Menguat terhadap Dolar, Imbas Kenaikan BI-Rate

Kemudian, lembaga pemeringkat internasional Fitch Rating memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan median negara dengan peringkat BBB yang mencapai 5 bulan.

Menurut Fitch, penyusutan cadangan devisa terutama dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menopang rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.

Baca juga:  Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Diproyeksi Kisaran Rp16.800-Rp17.500

Sentimen lain berasal dari perhatian pasar terhadap rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110 ribu pekerja, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.994 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.961 per dolar AS. (kmb/balipost)

BAGIKAN