Lansia Desa Pajahan, Tabanan, menunjukkan kuliner khas mereka yakni jukut empol salak dan lawar ketoktok. (BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Selama ini, salak identik sebagai buah andalan Desa Pajahan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Namun, di tangan warga setempat, tunas muda tanaman salak atau empol salak, ternyata dapat diolah menjadi sajian kuliner tradisional yang lezat bernama jukut empol salak. Kuliner khas ini diperkenalkan para lansia Desa Pajahan dalam lomba kuliner serangkaian Bulan Bung Karno di Tabanan, Rabu (24/6).

Jukut empol salak diolah menggunakan bumbu genep khas Bali dan disajikan sebagai sayur berkuah. Cita rasanya semakin gurih ketika dipadukan dengan daging ayam, daging babi, maupun kacang merah. “Tekstur sayurnya empuk, seperti sayur ares, tetapi ini lebih lembut,” ujar salah seorang pengunjung usai mencicipi hidangan tersebut di sela-sela lomba.

Baca juga:  Dibanding Sebelum Pandemi COVID-19, Harga Manggis Ekspor Jauh Lebih Rendah

Salah seorang peserta lomba, I Ketut Sujadi, mengatakan proses pembuatan sayur empol salak tergolong sederhana. Tunas salak muda dipotong, kemudian direbus bersama bumbu genep dan dimasak sekitar 20 menit hingga empuk. Untuk menambah cita rasa, sayur tersebut dapat dipadukan dengan kacang merah, daging ayam maupun daging babi.

Menurutnya, jukut empol salak merupakan kuliner khas Desa Pajahan yang sudah lama dikenal masyarakat setempat. Selain memanfaatkan hasil perkebunan salak, makanan ini juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional desa. “Meski tidak menjadi juara, kami para lansia senang bisa dilibatkan dalam lomba serangkaian Bulan Bung Karno, apalagi bisa mengenalkan masakan khas lokal Desa Pajahan,” ujarnya.

Baca juga:  Komisi III DPRD Denpasar Sidak Proyek Pasar Badung

Selain menyajikan jukut empol salak, para lansia Desa Pajahan juga memperkenalkan lawar ketoktok, yakni lawar berbahan bunga kelapa yang masih lestari di desa tersebut.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Tabanan, I Made Murdika, mengatakan lomba memasak lansia tersebut diikuti 19 peserta yang merupakan perwakilan puskesmas se-Kabupaten Tabanan.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kreativitas para lansia, tetapi juga sebagai upaya melestarikan kuliner tradisional berbasis potensi desa.
“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga upaya pelestarian kuliner tradisional berbasis potensi desa,” ujarnya. (Dewi Puspawati/balipost)

Baca juga:  Tiga Air Terjun di Pujungan Jadi Destinasi Wisata Alam dan Spiritual

 

BAGIKAN