Kapendam IX/Udayana, Kolonel Inf Amrizal Nasution (kanan) saat door stop acara simakrama dengan awak media. (BP/rah)

DENPASAR, BALIPOST.com – Zaman sekarang tantangan yang dihadapi tidak lagi hanya bersifat konvensional atau yang bisa kelihatan dengan kasat mata. Namun saat ini, berperang lewat teknologi, dengan opini, narasi, dan berita-berita yang sifatnya hoaks dan tujuannya untuk memecah belah persatuan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, benteng pertahanan informasi diperkuat untuk tetap menjaga kondusivitas persatuan bangsa.

Hal ini disampaikan Kapendam IX/Udayana, Kolonel Inf Amrizal Nasution saat acara simakrama dengan awak media di Makodam, Denpasar, Rabu (24/6). “Di dunia sekarang ini yang serba teknologi, digital semakin masif dan nyata. Kita ketahui perang tidak hanya menggunakan senjata untuk saat ini. Mungkin kalau kita berbicara mungkin sejarah di era-era dulu, perang lebih mengutamakan fisik dan senjata tajam,” ujarnya.

Baca juga:  Berkeliaran di Ubud, Puluhan Gepeng Ditertibkan

Namun sekarang, menurut Kolonel Amrizal, kita berperang dengan teknologi, opini dan narasi dan berita-berita hoaks. Jadi suatu bangsa itu bisa terpecah belah hanya dengan sebuah kata-kata, gambar, dan  berita hoaks. Perlu diingat bahwa Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 tahun dengan menggunakan teknik atau cara memecah belah.

“Mungkin karena kelamaan dulu kita dijajah Belanda. Saat ini untuk menjajah Indonesia yang paling mujarab itu masih dengan cara teknik  memecah belah, mengadu domba,” tegas Amrizal.

Menurutnya di sinilah letak tanggung jawab besar kita bersama. Media bukan lagi sekadar menyampaikan informasi, melainkan benteng pertahanan informasi untuk tetap menjaga kondusivitas persatuan bangsa.

“Kami berharap selaku insan media, jangan sampai kita jadi bagian, walaupun mungkin  terkecil yang ikut berperan untuk memecah belah bangsa ini. Tapi kita merupakan bagian perekat, bagian pemersatu untuk tetap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.

Baca juga:  Tempat BB Pertama di Bali Diresmikan

Oleh karena itu, perlu bersama-sama memperkuat, bersinergi dalam meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan terhadap manipulasi informasi yang dapat menimbulkan keresahan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Pihaknya menyadari institusi TNI tentunya tidak luput dari dinamika di lapangan. Sebagai prajurit bukan  lahir  dari malaikat yang jatuh dari langit langsung jadi TNI. “Kami juga manusia yang tidak luput mungkin dengan kesalahan. Jadi kami sadari dan kami terus berusaha mengintropeksi dan memperbaiki diri, sehingga kedepan lebih baik lagi,” ungkapnya.

Baca juga:  Bukan Zig-zag, Ini Bentuk Lintasan Baru Ujian Praktik Pemohon SIM

Ia  menegaskan, TNI khususnya Kodam IX/Udayana berkomitmen untuk selalu terbuka dan kooperatif. Pihaknya ingin membangun sebuah hubungan mutualisme yang berkelanjutan, sebuah hubungan yang saling memahami profesi masing-masing, saling mendukung dan berkontribusi mencerdaskan masyarakat melalui karya-karya jurnalistik yang berkualitas.

“Pintu kami selalu terbuka lebar. Kami sangat menyambut baik apabila ada saran, kritik yang membangun, maupun masukan dari saudara-saudara kami, rekan-rekan media sekalian.  Marilah kita jadikan kegiatan silaturahmi sebagai sarana komunikasi efektif dalam rangka membangun kesamaan visi dan tujuan bersama guna menciptakan situasi yang aman dan kondusif. Pimpinan kami menekankan  kalau memang anggota bersalah akan ditindak tegas, akan memprosesnya sesuai dengan hukum yang ada,” tutup Amrizal. (Kerta Negara/balipost)

 

BAGIKAN