Sanggar Gamelan Suling Gita Semara dipercaya sebagai Duta Kabupaten Gianyar dalam Parade Palegongan Klasik Khas Desa Peliatan yang akan digelar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (22/6/2026) pukul 17.00 WITA. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Semangat pelestarian warisan seni klasik Bali akan kembali bergema di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, melalui Sanggar Gamelan Suling Gita Semara dipercaya sebagai Duta Kabupaten Gianyar dalam Parade Palegongan Klasik Khas Desa Peliatan yang akan digelar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (22/6/2026) pukul 17.00 WITA.

Penampilan ini menjadi momentum penting untuk menghadirkan kembali kejayaan kesenian Palegongan Peliatan yang telah menjadi identitas budaya desa tersebut selama lebih dari satu abad. Salah satu sajian utama yang akan ditampilkan adalah rekonstruksi Tari Legong Lasem Klasik Peliatan generasi tahun 1969 serta rekonstruksi Tabuh Liar Samas gaya Peliatan, yang pernah berkembang pada masa keemasan seni Palegongan di desa tersebut.

Baca juga:  Aci Calonarang Pura Dalem Puri Digelar Tanpa Penonton

Desa Peliatan dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan seni pertunjukan Bali yang kuat dipengaruhi tradisi keraton atau puri. Dari desa inilah Tari Legong Lasem tumbuh dan berkembang hingga mengantarkan nama Bali ke panggung internasional dalam misi kesenian ke Eropa pada tahun 1931 dalam rangkaian L’Exposition Coloniale Internationale de Paris.

Kepercayaan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Gianyar kepada Desa Peliatan dinilai sebagai bukti bahwa tradisi Palegongan masih terpelihara dengan baik. Transfer pengetahuan dari para maestro kepada generasi penerus terus berlangsung, sehingga warisan seni tersebut tetap hidup dan berkembang.

Ketua dan pembina Sanggar Gamelan Suling Gita Semara bersama para seniman muda Peliatan memaknai kesempatan ini sebagai ruang pembelajaran sekaligus upaya mendokumentasikan kembali bentuk-bentuk kesenian klasik yang mulai jarang dipentaskan. Mayoritas penabuh dan penarinya merupakan generasi muda berusia sekitar 20 tahun yang terlibat langsung dalam proses rekonstruksi.

Baca juga:  Dukung Pelaksanaan Sidang IPU, Jaringan dan Pelayanan Pelanggan Dioptimalisasi

Untuk menjaga keaslian garapan, proses rekonstruksi melibatkan para pelaku dan pewaris tradisi yang memiliki keterkaitan langsung dengan maestro Palegongan Peliatan. Pembinaan tari dipandu oleh Ni Wayan Sriathi atau Iluh Mas, salah satu penari Legong Lasem generasi 1969 yang pernah mendapat didikan langsung dari maestro-maestro legendaris seperti almarhum Gusti Biang Sengog, Anak Agung Gde Mandera, dan I Made Lebah.

Sementara pembinaan tabuh dipimpin I Gusti Ngurah Sukra serta I Wayan Lantir yang merupakan pewaris tradisi dan memiliki hubungan erat dengan para seniman pencipta gaya Palegongan Peliatan terdahulu.

Tak hanya menghadirkan karya klasik, Gamelan Suling Gita Semara juga mempersembahkan dua karya baru sebagai bentuk pengembangan tradisi. Keduanya adalah Tabuh Kreasi Palegongan berjudul “Rah Rawuh” dan Tari Kreasi Palegongan “Sulur Waringin”. Kedua karya tersebut lahir dari eksplorasi artistik yang tetap berpijak pada akar tradisi Legong Lasem dan Tabuh Liar Samas.

Baca juga:  Lima dari Sembilan PPK di Buleleng Tuntaskan Rekapitulasi Suara

Melalui perpaduan antara rekonstruksi dan inovasi, penampilan ini diharapkan menjadi bukti bahwa kesenian klasik tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga mampu menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya karya-karya baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

Pentas di PKB XLVIII ini sekaligus menjadi wujud komitmen Desa Peliatan untuk terus menjaga keberlanjutan warisan seni Palegongan melalui proses pembelajaran, dokumentasi, dan transfer pengetahuan kepada generasi muda sebagai fondasi pelestarian budaya Bali di masa depan. (Adv/balipost)

BAGIKAN