Suasana pameran di Tibubeneng, Badung yang memamerkan karya siswa SD se-Tibubeneng dan 10 seniman lintas genre. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Sejumlah siswa SD di Tibubeneng, Badung menunjukkan karya seni menggunakan plastik daur ulang pada Pameran Tibubeneng Sustainable Art. Pameran yang dibuka Sabtu (13/6) ini tak hanya menampilkan karya para siswa, ada 10 seniman lintas genre yang memamerkan karya mereka berkaitan dengan isu lingkungan.

Ada pun 10 seniman yang terlibat, terdiri dari perupa di antaranya Made Wianta (alm), Made Bayak, dan Andry Boy Kurniawan.

Para kartunis di antaranya Jango Pramartha, Ida Bagus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky Sinanta, dan Putu Dian Ujiana “Beluluk”.

Sedangkan dari fotography menampilkan karya fotografer Andang Iskandar dan Tjandra Hutama.

Pameran menampilkan lebih dari 20 karya seni, baik lukisan, kartun, instalasi seni, dan fotografi, berlangsung hingga 30 Juni 2026.

Baca juga:  WBF Rock Music Festival Give Appreciation to Bali Rock Musician

Menurut Kepala Desa Tibubeneng, I Made Kamajaya, dikutip dari keterangan tertulisnya, pameran seni ini adalah bagian dari bukti nyata kolaborasi pihak yang peduli dengan permasalahan lingkungan, khususnya sampah.

Ia mengutarakan melalui praktik kegiatan seni, budaya dan lingkungan, Desa Tibubeneng dapat merealisasikan aksi penanganan persoalan sampah dan lingkungan secara berkelanjutan.

Penggagas pameran ini, Quoriena Ginting, mengatakan karya seniman cilik dari SD se-Tibubeneng benar-benar hadir menyihir pengunjung. Bahkan, banyak pengunjung tidak mengira bahwa kesemuanya itu adalah hasil kreasi anak SD.

“Memang sebelumnya, para siswa SD yang memiliki bakat melukis telah ikut workshop plasticology terlebih dahulu bersama seniman Made Bayak. Kesempatan dan pengalaman itulah yang menjadikan anak-anak memiliki kemampuan atau teknis melukis daur ulang plastik menjadi karya yang menghasilkan visual yang sangat bagus,” ujar perempuan yang akrab disapa Quorien ini.

Baca juga:  WHO Stated that Monkeypox Transmits from Human to Human

Ditambahkannya, seni yang berbicara tentang persoalan lingkungan sebenarnya bukan sekedar sebuah tampilan yang mengejar keindahan, tapi merupakan alarm yang menuntut kita untuk bangun, sadar, dan bertindak.

Hal ini pun diamini sang suami, Founder of Ginting Institute dan kolektor seni, Daniel Ginting. “Seni itu tidak boleh berhenti di ruang pamer saja. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan,” ujar pemilik Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency ini.

Yudha Bantono selaku kurator pameran mengatakan kegiatan ini adalah sebuah inisiatif kolaboratif yang menyatukan praktik seni kontemporer dengan gagasan pembangunan lingkungan berkelanjutan demi masa depan bumi yang terbaik.

Baca juga:  Atasi Kemacetan di Tibubeneng, Pemkab Badung akan Tata Simpang Padonan

Lebih lanjut menurut pria yang memiliki pengalaman secara aktif mengikuti dan membuat event seni baik skala nasional dan internasional, pameran ini hadir sebagai ruang dialog kreatif antara anak-anak usia sekolah dasar, seniman, warga desa, dan pemangku kepentingan lingkungan untuk mendorong kesadaran, aksi, dan solusi nyata terhadap tantangan lingkungan saat ini dan di masa depan.

“Konsep dan tujuan Tibubeneng Sustainable Art dirancang untuk menampilkan bagaimana seni dapat menjadi media transformasi sosial dan lingkungan. Dengan menampilkan karya-karya yang menggunakan bahan ramah lingkungan, bahan daur ulang, dan teknik yang kesemuanya mampu memberikan penyadaran bagi masyarakat,” tambah Yudha. (kmb/balipost)

BAGIKAN