
DENPASAR, BALIPOST.com – Dukungan terhadap kinerja Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat. Namun, di tengah apresiasi tersebut, publik juga menunggu kejelasan tindak lanjut dan hasil akhir dari rekomendasi yang telah dihasilkan pansus.
Hal itu disampaikan Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali, dr. Wayan Sayoga, saat menghadiri audiensi Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali) dengan Pansus TRAP DPRD Bali di Wantilan DPRD Bali, Rabu (3/6).
Menurut Sayoga, selama proses kerja Pansus TRAP muncul berbagai pertanyaan di tengah masyarakat, termasuk terkait adanya suara-suara yang dinilai berseberangan dengan langkah dan temuan pansus di lapangan.
“Di masyarakat muncul pertanyaan. Mereka datang berdiskusi dengan saya. Kenapa kemudian ada suara-suara yang justru berseberangan dengan apa yang dilakukan Pansus TRAP di lapangan. Ini menjadi pertanyaan secara kelembagaan,” ujarnya.
Ia menilai masyarakat saat ini tidak hanya ingin melihat proses pengawasan yang dilakukan DPRD, tetapi juga menunggu hasil konkret dari rekomendasi yang telah disampaikan kepada pemerintah.
Sayoga mempertanyakan bagaimana akhir dari kerja Pansus TRAP mengingat hingga saat ini pihak eksekutif dinilai belum memberikan penjelasan yang memadai kepada publik. Ia juga menyinggung posisi Gubernur Bali yang memiliki keterkaitan dalam pengawasan kawasan ekonomi khusus yang dikelola PT Bali Turtle Island Development (BTID).
“Hasil akhirnya seperti apa? Ini yang ditunggu masyarakat. Jangan sampai muncul pertanyaan apakah ini akan menjadi drama atau hanya sandiwara di depan kamera. Publik menunggu hasil nyata dari perjuangan Pansus TRAP,” tegasnya.
Meski demikian, Sayoga menyampaikan apresiasi terhadap langkah yang telah dilakukan Pansus TRAP dalam menjalankan fungsi pengawasan. Kehadiran FOR HATI Bali ke DPRD Bali, kata dia, tidak hanya untuk memberikan dukungan moral, tetapi juga menggali lebih jauh arah penyelesaian berbagai persoalan yang menjadi temuan pansus.
“Kami datang ke sini untuk mengapresiasi apa yang dilakukan Pansus TRAP dan seluruh anggotanya. Namun kami juga ingin mengetahui lebih jauh seperti apa ending dari perjuangan ini. Kita harus bicara apa adanya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa perhatian terhadap isu tata ruang, aset daerah dan perizinan bukan hanya datang dari kelompok tertentu, melainkan melibatkan berbagai kalangan yang peduli terhadap masa depan Bali.
Menurutnya, sejumlah tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, guru besar, aktivis hingga para profesional turut mengikuti perkembangan kerja Pansus TRAP. Mereka berharap rekomendasi yang telah dihasilkan tidak berhenti sebagai dokumen administratif, melainkan ditindaklanjuti secara nyata oleh pemerintah dan pihak terkait.
Audiensi FOR HATI Bali tersebut dihadiri berbagai elemen masyarakat. Dari kalangan tokoh agama hadir Ida Shri Bhagawan Yogananda. Turut hadir mantan anggota MPR RI utusan Bali Jro Gede Sudibya, Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali dr. Wayan Sayoga, akademisi Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si., akademisi Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Prof. Dr. I Gede Sutarya, mahasiswa, aktivis, serta sejumlah guru besar dan tokoh masyarakat Bali.
Pertemuan berlangsung dalam suasana dialogis dengan fokus pada pengawalan hasil kerja Pansus TRAP DPRD Bali, khususnya terkait tata ruang, pengelolaan aset daerah, dan berbagai perizinan yang menjadi perhatian publik. (Ketut Winata/balipost)










