
MANGUPURA, BALIPOST.com – Ancaman virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika kembali menghantui peternak di Kabupaten Badung. Kasus kematian mendadak pada ternak babi di sejumlah daerah luar Badung dalam beberapa waktu terakhir memicu kewaspadaan serius pemerintah daerah.
Merespons situasi tersebut, Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kabupaten Badung langsung bergerak cepat dengan menerapkan langkah-langkah preventif. Upaya ini sejalan dengan Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nomor 8492/SE/PK.320/F/08/2025 terkait kewaspadaan terhadap peningkatan kasus ASF di kawasan Asia Pasifik.
Kepala Disperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin lengah menghadapi ancaman tersebut. Tim kesehatan hewan telah diterjunkan untuk melakukan pemantauan langsung ke sejumlah sentra peternakan babi di Badung.
“Kami telah menerjunkan Tim Kesehatan Hewan (Keswan) untuk melakukan pengecekan langsung ke kantong-kantong peternakan babi di Badung. Monitoring ketat ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan ternak warga tetap terjaga,” ujar Raka Sukadana saat dihubungi, Selasa (2/6).
Selain pengawasan lapangan, Disperpa Badung juga menggencarkan edukasi kepada peternak melalui kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE). Edukasi ini menitikberatkan pada pemahaman bahaya ASF, gejala klinis, hingga jalur penularannya.
“Kami juga memperketat sistem pembatasan dan pengawasan akses keluar masuk kandang guna meminimalkan pembawa pembawa virus dari luar,” katanya.
Sebagai langkah lanjutan, Disperpa Badung mewajibkan penyemprotan desinfektan secara rutin di area kandang dan fasilitas peternakan. Kebijakan ini dituangkan dalam edaran resmi yang telah disebarkan kepada seluruh peternak di Badung. “Kami mewajibkan penyemprotan cairan disinfektan pada area kandang dan sarana dan prasarana peternakan secara berkala,” ucapnya.
Tak hanya itu, Disperpa juga melarang keras praktik swill feeding atau pemberian pakan dari sisa makanan hotel, restoran, maupun warung. Praktik tersebut dinilai menjadi salah satu jalur utama penyebaran virus ASF. “Kami menginstruksikan peternak untuk segera melapor kepada otoritas veteriner jika menemukan indikasi babi sakit atau mati mendadak dalam skala besar,” ucapnya.
Disperpa memastikan seluruh petugas di pusat kesehatan hewan (puskeswan) di masing-masing kecamatan dalam kondisi siaga penuh untuk menerima laporan masyarakat. Peran aktif peternak dinilai menjadi kunci utama dalam mendeteksi dini potensi penyebaran virus.
“Kami mengimbau dengan sangat kepada seluruh peternak agar segera melaporkan ke petugas Puskeswan jika menemukan babi yang menunjukkan gejala sakit. Koordinasi dapat dilakukan dengan menghubungi nomor kontak resmi petugas yang telah disebarkan di masing-masing kecamatan,” tegas Raka Sukadana.
Ia menghimbau kepada peternak untuk tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan serta menjaga kebersihan lingkungan kandang demi melindungi sektor peternakan yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. (Parwata/balipost)









