
BANGLI, BALIPOST.com – Hasil penilaian Lomba Penjor Kreasi HUT Kota Bangli ke-822 menuai kekecewaan dari peserta. Dua kelompok pemuda, STT Giri Seraya (Desa Adat Langkan) dan STT Santi Karya (Desa Belancan) melayangkan surat terbuka berisi nota kekecewaan terhadap dewan juri, Minggu (10/5). Hal itu dipicu oleh rendahnya perolehan nilai untuk dua karya penjor bertema “Goak Waringin” dan “Edol”.
Dalam surat terbuka bersama yang beredar, ada tiga poin utama yang disampaikan kedua STT tersebut. Pertama, kekecewaan terhadap nilai yang diberikan kepada karya penjor STSKY Belancan dengan tema “Edol” yang hanya mendapat poin 204 dan 201 untuk penjor bertema “Goak Waringin” dari STGS Langkan. Bahkan sama sekali tidak masuk dalam nominasi. Menurut kedua STT itu, nilai tersebut mendiskreditkan karya yang telah disuguhkan dan jauh di bawah dari indikasi opini publik. Lomba penjor kreasi tahun ini pun dinilai memiliki atmosfer persaingan ketat dan bernuansa “Perang Bintang”.
Pada point kedua, kedua STT tersebut juga mengungkapkan adanya isu mengenai kuub atau bentuk penjor yang dianggap tidak proporsional. Menurutnya bila itu benar maka statement tersebut tidak memiliki latar belakang dan tidak berdasar karena panitia sejak awal tidak memberikan wadah brainstorming yang biasanya dilaksanakan melalui TM (technical meeting) serta tidak memberikan patokan khusus mengenai proporsi kuub atau sikut, sehingga parameter benar atau salah terhadap hal tersebut menjadi bias.
Point ketiga, kedua STT tersebut menyampaikan bahwa dalam surat panitia pelaksana HUT lahirnya Kota Bangli ke-822 nomor 06/Pan-HUT/IV/2026, aspek kreativitas memiliki proporsi mencapai 30 persen dari penilaian. Namun demikian mereka merasa proporsi dan kriteria tersebut tidak diterapkan secara optimal. Segala kemegahan, kerumitan motif dan effort yang telah dituangkan dalam karya penjor sama sekali tidak dihargai sebagai bentuk kreativitas.
Ketua STT Giri Seraya Desa Adat Langkan, I Putu Edi Swastawan mengatakan surat terbuka yang dilayangkannya tersebut adalah hal yang wajar sebagai bentuk kekecewaan dari organisasi kepemudaan. “Kami kira hal-hal seperti ini menjadi sangat wajar. Dalam perlombaan ada yang berbahagia dan ada yang tidak puas, kebetulan pada momen ini kami yang berada di posisi tidak puas. Yang penting kan penyampaiannya beradab, tidak anarkis, dan tentu tanpa caci maki” jelas pemuda asal Desa Langkan tersebut.
Edi menjelaskan surat terbuka bersama yang dilayangkan STT Belancan dan Langkan berawal dari terbitnya rekap nilai dewan juri. Dua penjor berukuran big size bertajuk “Goak Waringin” hasil karya STT Langkan dan penjor dengan tema “Edol” dari STT Desa Belancan tidak masuk nominasi sama sekali, bahkan penjor “Goak Waringin” tidak masuk dalam sepuluh besar. Dalam surat terbuka itu tidak ada poin menuntut hasil juara, hanya saja kedua STT ini mempertanyakan hasil poin karyanya yang dianggap relatif kecil.
“Saya sih nggak nuntut siapa juaranya ya, semua memang bagus-bagus dan persaingannya ketat. Tapi kok penjor kami diberi nilai kecil banget, padahal opini publik terindikasi sebaliknya. Kayak karya kami didiskreditkan gitu, apa ya salah kami?,” Imbuhnya. Hal ini diharapkan menjadi evaluasi untuk panitia, agar masyarakat tidak dikejutkan dengan hal-hal serupa di tahun-tahun berikutnya. (Dayu Swasrina/balipost)










