
DENPASAR, BALIPOST.com – Perubahan pelan namun pasti mulai terlihat di jalanan Bali. Di tengah kepadatan lalu lintas kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan), animo naik Bus Trans Metro Dewata (TMD) menunjukkan tren positif.
Dalam kurun satu tahun terakhir, terhitung sejak 20 April 2025 hingga 19 April 2026, jumlah pengguna Bus TMD mencapai 1,7 juta penumpang. Capaian ini menjadi indikator awal tumbuhnya budaya penggunaan transportasi publik di Bali.
Manajer Operasional Bus TMD, Ida Bagus Eka Budi, mengungkapkan bahwa rata-rata pengguna harian kini hampir mencapai 5.000 orang. “Ini menunjukkan budaya menggunakan transportasi umum di Bali, khususnya Sarbagita, sudah mulai tumbuh,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (25/4).
Jika dibandingkan periode sebelumnya, jumlah penumpang mengalami peningkatan dari 1,62 juta menjadi 1,72 juta orang, atau naik sekitar 6,5 persen. Rata-rata pengguna harian pun ikut meningkat dari 4.450 menjadi 4.751 penumpang.
Kenaikan ini dinilai tidak sekadar mencerminkan kebutuhan mobilitas, tetapi juga menunjukkan adanya pergeseran kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan. Di tengah upaya menekan emisi dan kemacetan, kehadiran TMD mulai dipandang sebagai solusi transportasi yang lebih ramah lingkungan.
“Transportasi publik sangat penting untuk menekan kemacetan, mengurangi polusi, dan mendukung pariwisata berkelanjutan di Bali,” jelas Eka Budi.
Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan layanan, operator TMD juga menyerahkan 13 rambu halte kepada Dinas Perhubungan Provinsi Bali. Penambahan ini diharapkan dapat melengkapi titik-titik pemberhentian yang selama ini belum memiliki penanda, sekaligus meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas bagi pengguna.
Sementara itu, sebelumnya Gubernur Bali Wayan Koster sempat menyoroti operasional bus TMD yang dinilai belum optimal di sela-sela pidato satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali periode 20 Februari 2025 hingga 20 Februari 2026 pada Rapat Paripurna ke-28 DPRD Bali, Rabu (25/3) lalu.
Meski telah dianggarkan sekitar Rp49,7 miliar melalui skema sharing antara Pemprov Bali, Denpasar, Badung, dan Gianyar, tingkat keterisian penumpang di lapangan disebut masih rendah.
Menurut Koster, kondisi tersebut harus segera dievaluasi agar tidak membebani keuangan daerah tanpa hasil yang maksimal. “Kalau kita lihat, lalu lalang bus ini sepi, tidak banyak penumpangnya. Jadi perlu dievaluasi, daripada habis banyak uang tapi busnya kosong. Nanti efektifkan saja yang memang efektif,” tegasnya kala itu.
Selain evaluasi TMD, Pemprov Bali juga mendorong transformasi sektor transportasi menuju sistem yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya dengan mempercepat penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai di lingkungan pemerintahan dan angkutan umum. Tak hanya itu, studi pengembangan Autonomous Rapid Transit (ART) di kawasan Sarbagita juga dipercepat sebagai bagian dari solusi transportasi masa depan Bali. (Ketut Winata/balipost)










