Dirut Perumda Swatantra Buleleng, I Gede Boby Suryanto (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Nonsubsidi mulai menekan usaha rental kendaraan di Buleleng. Lonjakan biaya operasional membuat pelaku usaha harus memutar otak agar bisnis tetap berjalan di tengah ketidakpastian harga energi.

Perusahaan daerah Perumda Swatantra Buleleng menjadi salah satu yang merasakan langsung dampak tersebut. Usaha sewa kendaraan yang dikelola kini menghadapi tantangan serius akibat meningkatnya biaya bahan bakar, yang menjadi komponen utama dalam operasional harian.

Baca juga:  Dinas Perhubungan Buleleng Buka Ramp Check Gratis

Direktur Utama Perumda Swatantra Buleleng, I Gede Boby Suryanto mengakui bahwa kenaikan harga BBM, terutama jenis Dexlite, Pertamax Turbo, dan Pertamina Dex, sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis. Menurutnya, kondisi global yang bergejolak turut memicu lonjakan harga energi.

“Kenaikan BBM sangat dipengaruhi situasi global yang sekarang cukup bergejolak. Kami harus hati-hati karena bergerak di bidang otomotif,” ujarnya, Jumat (24/4).

Ia menjelaskan, dampak kenaikan BBM tidak hanya dirasakan pada biaya bahan bakar semata, tetapi juga merembet ke sektor lain seperti perawatan kendaraan. Harga onderdil dan suku cadang diperkirakan ikut meningkat seiring naiknya biaya produksi dan distribusi.

Baca juga:  Unwar Segera Buka Prodi Fisioterapi dan Spesialis Penyakit Dalam

“Kalau BBM naik, biasanya diikuti kenaikan biaya servis dan suku cadang. Ini yang cukup berat bagi operasional kami,” jelasnya.

Saat ini, Perumda Swatantra mengelola 166 unit kendaraan, dengan 38 unit di antaranya menggunakan BBM jenis Dexlite dan Pertamina Dex. Komposisi armada tersebut membuat perusahaan cukup sensitif terhadap fluktuasi harga bahan bakar.

Boby berharap kenaikan harga BBM tidak berlangsung lama. Menurutnya, jika kondisi ini hanya terjadi dalam jangka pendek, dampaknya masih bisa diantisipasi. Namun, jika berlangsung hingga berbulan-bulan bahkan setahun, perusahaan perlu menyiapkan langkah strategis. “Kalau hanya satu sampai dua bulan mungkin tidak terlalu berpengaruh. Tapi kalau sampai setahun, kami harus menyiapkan langkah antisipasi,” tegasnya. (Yudha/balipost)

Baca juga:  Soal Izin Lokasi Rencana Reklamasi Teluk Benoa, ForBALI Bersurat ke Susi Pudjiastuti
BAGIKAN