
BANGLI, BALIPOST.com – Petani kopi di wilayah Kintamani khususnya di Desa Satra mengalami penurunan hasil panen pada musim panen tahun ini. Hujan berkepanjangan yang terjadi sejak Oktober tahun lalu menjadi pemicu merosotnya produksi kopi Arabika milik warga.
Petani kopi setempat Komang Mudarka, menyebutkan bahwa penurunan hasil panen di kebunnya mencapai sekitar 30 persen. Menurutnya, fase berbunga yang seharusnya membutuhkan cuaca panas justru terus diguyur hujan.
“Penyebab utamanya cuaca. Dari Oktober sampai sekarang hujan terlalu panjang. Padahal, saat kopi berbunga di bulan Oktober, tanaman butuh panas agar penyerbukan sempurna. Karena hujan terus, proses penyerbukan jadi tidak maksimal,” ungkap Mudarka, Senin (13/4).
Kondisi penurunan hasil panen ini, kata Mudarka tidak merata di seluruh Kintamani. Beberapa wilayah seperti Belantih informasinya masih memiliki hasil panen yang relatif stabil.
Bagi Mudarka, penurunan hasil panen tahun ini sangat disayangkan mengingat harga kopi saat ini sedang melonjak. “Harga sekarang sangat bagus, petik merah di awal panen mencapai Rp17-18 ribu. Bahkan sebelumnya sempat Rp20 ribu,” ujarnya.
Harga kopi saat ini lebih mahal dibanding musim panen tahun sebelumnya. Pada awal musim panen tahun lalu harga kopi Petik merah berkisar Rp 12-15 ribu per kg. “Tahun lalu paling mahal Rp 17 ribu. Kalau tahun ini kemungkinan harganya nanti mencapai diatas Rp 20 ribu,” ujarnya.
Tingginya harga kopi dalam beberapa tahun terakhir, diakui Mudarka memotivasi petani untuk menambah luas tanam. Bahkan ada juga petani yang kini mulai mengganti komoditas lain seperti jeruk dengan bibit kopi baru yang dinilai lebih menjanjikan. (Dayu Swasrina/balipost)










