Wisatawan mengunjungi Pantai Kuta di Badung, Bali, Kamis (26/3/2026). (V

DENPASAR, BALIPOST.com – Gejolak geopolitik global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah, mulai menjadi perhatian bagi perekonomian Bali. Kenaikan harga energi dunia berpotensi menekan sektor pariwisata melalui peningkatan biaya transportasi, operasional usaha, hingga inflasi daerah.

Pemerhati ekonomi dan pariwisata, Trisno Nugroho mengatakan Bali sebagai daerah terbuka sangat sensitif terhadap perubahan harga energi, terutama avtur dan bahan bakar transportasi.

Menurutnya, kenaikan harga energi dapat berdampak langsung pada sektor pariwisata seperti biaya perjalanan wisatawan dan operasional sektor pariwisata.

“Bali sangat bergantung pada mobilitas orang dan konektivitas. Jika harga energi meningkat, maka tiket pesawat bisa naik, biaya hotel dan transportasi meningkat, serta wisatawan cenderung menekan pengeluaran,” ujarnya di Denpasar, Senin (6/4).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada Januari 2026 mencapai 502.205 orang, turun 12,30 persen dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 572.668 orang.

Tingkat penghunian kamar hotel berbintang juga mengalami penurunan menjadi 56,67 persen pada Januari 2026, lebih rendah dibandingkan Desember 2025 sebesar 60,88 persen dan Januari 2025 sebesar 60,28 persen.

Baca juga:  Menguatnya Politik Patron-klien

Trisno menjelaskan, jika tekanan energi berlanjut, terdapat beberapa jalur dampak yang perlu diwaspadai. Pertama, harga tiket pesawat berpotensi meningkat, terutama untuk wisatawan jarak jauh.

Kedua, wisatawan yang datang cenderung lebih hemat, memilih hotel lebih murah, dan memperpendek lama tinggal. Ketiga, hotel, restoran, transportasi wisata, dan UMKM akan menghadapi kenaikan biaya operasional.

Keempat, fiskal daerah berpotensi tertekan apabila aktivitas pariwisata melemah. Kelima, inflasi dapat meningkat dan berdampak pada masyarakat lokal.

Begitupula dari sisi inflasi Bali sendiri, kata dia, menunjukkan tren meningkat dari 2,58 persen pada Januari 2026 menjadi 3,89 persen pada Februari 2026. Bahkan inflasi Denpasar tercatat 4,33 persen.

“Ini sinyal bahwa tekanan harga sudah mulai terlihat. Jika harga energi global naik, maka dampaknya bisa semakin luas terhadap biaya hidup dan daya saing pariwisata Bali,” katanya.

Baca juga:  Bali Harus Proteksi Kawasan Hulu, Penguasaan Lahan Tahura Masuk Pidana Kejahatan Lingkungan

Meski demikian, Trisno yang juga Pengurus PHRI Bali dan Komisaris Waterbom Bali menilai kondisi ini masih bersifat kewaspadaan dini dan belum berdampak langsung terhadap perlambatan ekonomi Bali.

Untuk itu, ia menegaskan, langkah antisipasi harus segera dilakukan agar sektor pariwisata tetap kuat di tengah ketidakpastian global.

Sebelumnya pengamat pariwisata yang juga Ketua Bali Tourism Board (BTB), I.B. Agung Partha Adnyana menilai konflik global tidak serta-merta memukul kondisi destinasi, namun lebih berpengaruh pada psikologi pasar.

“Konflik global memang bisa memengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali. Bukan karena kondisi di Bali tidak aman, tetapi karena persepsi risiko dan kebijakan perjalanan dari negara asal wisatawan,” ujarnya.

Menurutnya, pasar Eropa, Australia, Jepang, Korea Selatan, hingga Amerika Utara termasuk yang paling responsif terhadap isu geopolitik. Negara-negara tersebut memiliki tingkat kepatuhan tinggi terhadap travel advisory serta pertimbangan manajemen risiko perjalanan yang ketat.

Ketika konflik meningkat, biasanya terjadi penundaan atau perubahan jadwal perjalanan dalam jangka pendek, khususnya untuk keberangkatan yang sudah dekat. Namun pembatalan permanen relatif terbatas karena sebagian besar wisatawan memilih melakukan penjadwalan ulang (reschedule).

Baca juga:  PPKM Mikro Setelah 5 April akan Diperluas Lagi ke 5 Provinsi

Ia juga mengungkapkan bahwa karakter wisatawan saat ini berbeda dibanding sebelum pandemi. Wisatawan kini lebih cepat merespons isu global dan cenderung memilih perjalanan yang fleksibel, aman, serta memiliki kepastian layanan.

“Sekarang wisatawan sangat memperhatikan fleksibilitas tiket, asuransi perjalanan, dan kebijakan pembatalan. Sensitivitas terhadap isu global jauh lebih tinggi,” jelasnya.

Konflik internasional juga dapat memicu perubahan rute penerbangan, terutama jika terjadi penutupan ruang udara atau peningkatan risiko di wilayah tertentu. Kondisi ini berpotensi mengurangi kapasitas kursi dan memperpanjang waktu tempuh, yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga tiket, khususnya untuk penerbangan jarak jauh ke Bali.

“Bali tetap aman dan terbuka bagi wisatawan dunia. Tantangan global lebih berdampak pada persepsi dan konektivitas, bukan pada kondisi destinasi itu sendiri,” tegas Agung Partha Adnyana. (Suardika/balipost)

BAGIKAN