Petugas kesehatan memberikan vaksin booster pada lansia di RSUD Wangaya, Denpasar, Jumat (14/1). Peningkatan kasus COVID-19 membuat pemerintah menggecarkan vaksinasi booster, terutama bagi lansia. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Meningkatnya kasus Covid-19 yang disebabkan varian Omicron membuat Pemerintah kembali meminta masyarakat untuk tetap waspada. Bahkan, untuk menekan laju penularan varian Omicron ini, masyarakat diminta untuk mengurangi mobilitas, menghindari pusat-pusat keramaian, dan bagi yang bisa bekerja dari rumah agar kembali menerapkan work from home (WFH).

Menanggapi permintaan itu, Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali, A.A. Ngurah Adhi Ardhana, menyarankan agar Pemerintah Provinsi Bali tidak serta merta mengikuti arahan Pemerintah Pusat. Namun, ia meminta agar menyesuaikan dengan situasi dan kondisi penyebaran Covid-19 di Bali saat ini.

Sebab, apabila pola WFH kembali diberlakukan, akan berdampak pada aktivitas ekonomi Bali. Seperti yang terjadi pada saat pola WFH penuh diberlakukan pada bulan Juli-Oktober 2021. “Untuk Bali, sebaiknya menyesuaikan situasi mengingat tingkat disiplin Bali yang terlihat cukup baik terkait masker dan kebersihan. Aktivitas ekonomi akan menjadi terdampak apabila dilakukan pola WFH secara penuh seperti bulan Juli-Oktober 2021 lalu. Bali saat ini (kasus Covid-19, red) masih sangat rendah. Kemarin positif hanya 23 orang, mudah-mudahan dapat terjaga terus seperti itu,” tandas politisi PDI Perjuangan ini.

Baca juga:  Nyepi, Beban Puncak Listrik Diperkirakan 538,6 MW

Dikatakan bahwa tingkat kedisipilan masyarakat Bali dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes) cukup baik. Terutama penggunaan masker dan kebersihan.

Bahkan, cakupan tingkat vaksinasi di Bali sudah melampaui target. Dan saat ini tengah dilakukan program vaksinasi booster.

Dari data Satgas Penanganan COVID-19 Bali, vaksinasi tahap 1 di Bali per 19 Januari 2022 mencapai 3.503.628 orang atau 102,89 persen dari target sebanyak 3.405.130 orang. Sedangkan vaksinasi tahap 2 atau dosis lengkap mencapai 91,92 persen atau 3.129.843 orang.

Meskipun demikian, Adhi Ardhana tetap menghimbau agar masyarakat Bali harus menjalankan kebiasaan baru dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan secara disiplin dalam setiap kondisi kegiatan yang ada. Termasuk kegiatan adat budaya yang memang pasti menimbulkan kerumunan.

Baca juga:  Selandia Baru Laporkan Kematian Pertama Terkait Vaksin Pfizer

Ia terus mendorong agar capaian vaksinasi booster terus dilakukan agar dapat mengurangi risiko dampak terinfeksi Covid-19 varian Omicron.

Senada diungkapkan Ketua Bali Tourism Board (BTB) Ida Bagus Agung Partha Adnyana. Ia mengatakan pemberlakuan WFH akan sangat memberatkan karena Bali telah terpuruk sejak pandemi.

Namun, pihaknya mengaku kalau hal itu diberlakukan sama di semua daerah adalah demi kepentingan bersama. “Sudah pasti akan berat sekali buat kita di Bali, tapi jangan sampai lagi terjadi seperti halnya, saya baca ada 1.000 case dalam sehari. Pasti Presiden sudah tahu yang terbaik, terkait arahan dan sebagainya. Kita berdoa, mudah-mudahan tidak seperti delta di tahun kemarin terjadi lagi. Kita lihat positif-positifnya Omicron ini seperti apa, misalnya mungkin tidak banyak yang masuk rumah sakit, contohnya gitu. Ya mudah-mudahan kita berdoalah, biar tidak seganas delta dan cepat berlalu sehingga kita bisa cepat bangkit lagi,” katanya, Rabu (19/1).

Baca juga:  Terjaring Hendak Mudik, Petugas Kembalikan Pemuda ke Lombok

Dengan kembali penerapan WFH, tentu kata dia, akan kembali ke keadaan sebelumnya di awal pandemi. “Ya, pastinya begitu. Tapi sementara strateginya karena sudah begini kan, memang yang kita lihat masalah kesehatan itu diutamakan dulu. Tapi ini kan sudah arahan dari Presiden, pastinya yang terbaiklah. Kita ikuti saja. Kita ikuti saja semua saran Presiden, kan yang pasti beliau sudah lebih tahu dan melihat dari segala aspek,” ucapnya. (Winatha/Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN