
DENPASAR, BALIPOST.com – Berburu makanan berbuka puasa (takjil) atau bahasa kekiniannya “war” takjil tak hanya dilakoni oleh umat muslim. Di Denpasar, dari Non-Islam (Nonis) hingga wisatawan mancanegara (wisman) juga ikutan nge-war.
Situasi ini bisa ditemui di Pasar Ramadhan Banjar Wanasari (Kampung Jawa) Denpasar yang jumlah pedagangnya juga terus bertumbuh setiap tahunnya.
Ketua Pengelola Pasar Ramadan Wanasari, Mazuki Fathan saat ditemui, Jumat (20/2) sore mengatakan, tahun ini ada 79 pelaku UMKM yang berjualan dalam Pasar Ramadan tersebut. Jumlah ini pun bertumbuh dari tahun sebelumnya yang tercatat hanya 45 pedagang.
Dikarenakan keterbatasan tempat pada tahun ini pun membuat lokasi berjualan dibagi. Selain di sekitar masjid, area penjualan juga bertambah di depan toko modern berjaringan Selatan Masjid. Pengunjung pun diakuinya sangat ramai. “Bahkan ada wisatawan mancanegara pun kami lihat turut berbelanja,” ungkapnya.
Jenis makanan yang dijual pun beragam, mulai dari aneka gorengan, makanan siap saji seperti sosis bakar dan cilok hingga beragam jenis minuman yang sering disajikan saat berbuka puasa. Selain itu makanan khas Bulan Ramadan di wilayah tersebut yakni sate usus hingga sate susu tetap tersedia. “Sate susu ini yang menjadi cirikhas, ini hanya ada pas bulan puasa,” katanya.
Dalam sehari, diperkirakannya para pedagang mampu meraih omset minimal Rp1 juta. Pedagang hanya berjualan pada sore hari yang sekitar pukul 17.00 WITA para pengunjung akan sangat padat. Pasar Ramadan ini kata Fathan dibuka mulai pada Kamis 19 Februari dan akan berakhir pada 26 hari berikutnya. “Kami hanya buka 26 hari tahun ini, mengingat ada Hari Raya Nyepi sebelum Lebaran nanti. Jadi kami sudah tutup pada H-1 penyepian,” katanya.
Sementara itu, salah seorang pedagang Khadijah mengaku tahun ini menjadi tahun kelima ia berjualan takjil di Pasar Ramadan Wanasari. Menu makanan yang dijual berupa donat, gorengan, samosa, dan lainnya.
Masyarakat dikatakannya sangat antusias untuk datang dan membeli berbagai jenis makanan yang dijualnya. “Kami di sini berjualan mulai jam tiga hingga sekitar setengah tujuh. Masyarakat cukup ramai, sekitar pukul 5 sore itu paling ramai,” terangnya. (Widiastuti/balipost)










