
DENPASAR, BALIPOST.com – Pengelolaan sampah berbasis sumber di sektor pariwisata terus didorong Pemerintah Kota Denpasar sebagai bagian dari strategi menjaga keberlanjutan destinasi. Langkah ini bukan semata-mata dipicu pembatasan pembuangan ke TPA Suwung.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, saat gathering pariwisata di Sanur, Sabtu (28/3) mengatakan, sosialisasi penyelesaian sampah di sumber menjadi penting dilakukan termasuk di sektor pariwisata. Sehingga peran pariwisata ini bisa membantu pemerintah dalam menyelesaikan sampahnya di sumber. “Ternyata beliau-belau ini di bawah naungan PHRI sudah sangat antusias mensupport program kami. Itu sangat kami apresiasi,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Ni Putu Riyastiti, menambahkan, pembangunan pariwisata kota harus berlandaskan prinsip keberlanjutan dengan menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dengan keterbatasan sumber daya alam dalam pengembangannya, Denpasar lebih menitikberatkan pada penguatan citra destinasi.
Ia menegaskan, pengembangan Sanur sebagai destinasi unggulan tidak terlepas dari tantangan pengelolaan sampah. Sektor hotel, restoran dan kafe (Horeka) dikatakannya mampu mendatangkan pariwisata namun juga ada sampah yang dihasilkan. Oleh karena itu, sosialisasi pemilahan sampah berbasis sumber terus digencarkan sebagai langkah strategis menjaga kualitas lingkungan. “Ini gencar dilakukan bukan semata-mata karena TPA Suwung ditutup, namun menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan lingkungan dan pariwisata,” ungkapnya.
Sementara itu Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Denpasar, Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengatakan, praktik pengelolaan sampah sebenarnya telah lama diterapkan, khususnya di hotel-hotel besar yang mengikuti standar internasional.
Pengelolaan tersebut mencakup pemilahan berbagai jenis limbah, mulai dari organik, limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), limbah dapur, limbah cair, hingga sisa makanan.
Menurutnya, limbah B3 umumnya telah ditangani oleh pihak ketiga, termasuk minyak jelantah yang tidak lagi dibuang sembarangan. Selain itu, pengolahan sampah organik melalui komposter juga mulai digencarkan, meski diakui masih menjadi tantangan yakni Sanur yang diharapkan banyak pohon juga akan menimbulkan lebih banyak sampah organik.
Pemkot Denpasar juga mengoptimalkan keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). Di kawasan Sanur, disebutkan terdapat dua fasilitas TPS3R yang akan dimaksimalkan, didukung kolaborasi antara desa adat, BUMDes, dan pelaku usaha pariwisata.
“Kerja sama ini diharapkan mampu menyerap hasil pengolahan sampah seperti kompos yang juga bisa dimanfaatkan hotel. Ini akan memperkuat posisi Sanur sebagai green destination,” ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan standar kebersihan dan pengelolaan lingkungan juga menjadi bagian dari penilaian agen perjalanan terhadap hotel. Apabila tidak memenuhi standar, hal tersebut dapat berdampak pada penurunan minat wisatawan. (Widiastuti/balipost)










