Warga sedang membeli kebutuhan pokok di salah satu supermarket di Badung. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Momentum hari raya besar keagamaan di awal tahun diproyeksikan menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor ritel dan ekonomi Bali pada triwulan I 2026. Meningkatnya konsumsi masyarakat serta pergerakan wisatawan domestik memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan dan distribusi barang.

Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali, Budiman A. Sinaga di Denpasar menilai secara umum pihaknya optimis ekonomi Bali pada triwulan I 2026 dapat bertumbuh dengan baik, didukung momentum Nyepi dan Lebaran yang mendorong konsumsi masyarakat serta aktivitas pariwisata.

Ia menjabarkan secara tren transaksi penjualan ritel di Bali menjelang Hari Raya Nyepi dan Lebaran 2026 menunjukkan momentum yang relatif sama dengan tahun sebelumnya. “Perbedaan utama terletak pada waktu pelaksanaan hari raya yang tahun ini jatuh di pertengahan bulan, sementara tahun lalu berada di akhir bulan,” katanya Kamis (26/3).

Baca juga:  Remaja Asing Ingin Jadi Penegak Hukum Jalanan

Menurutnya, pelaku ritel saat ini membagi pangsa pasar menjadi tiga segmen utama, yakni pasar domestik, pasar lokal di pusat Kota Denpasar, serta pasar pariwisata yang berada di kawasan dekat pantai dan destinasi wisata.

Retailer yang berlokasi di pusat kota Denpasar masih mencatat pertumbuhan penjualan rata-rata sekitar 5 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, retailer di kawasan pariwisata mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni dua digit hingga mencapai 30 persen, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan dan aktivitas masyarakat selama libur panjang Nyepi dan Lebaran.

Baca juga:  "Total Lockdown" Diberlakukan Malaysia, Begini Kondisi di Hari Pertama

Alhasil, kata Budiman, dari sisi kebutuhan pokok, terjadi peningkatan pembelian masyarakat menjelang hari raya. Kategori produk yang mendominasi penjualan antara lain snacking tumbuh sekitar 7 persen, biskuit 5,9 persen, buah dan sayur 4,96 persen, serta frozen food, beras, produk perishable, roti, dan dairy yang rata-rata tumbuh sekitar 3 persen.

“Aprindo Bali juga mencatat tidak terjadi pergeseran signifikan ke belanja online selama periode hari raya. Transaksi ritel offline masih tumbuh dan tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan Nyepi dan Lebaran,” terangnya.

Baca juga:  Celuk Punya Banyak DTW Asyik Buat Liburan, Ini 5 Pilihan Transportasi Menuju ke Sana

Sementara pemerhati ekonomi Kusumayani, M.M. menilai, momentum hari raya yang berdekatan di triwulan I ini diyakini akan terus menjaga stabilitas konsumsi dan memperkuat pertumbuhan ekonomi Bali pada awal tahun 2026, khususnya di sektor perdagangan dan pariwisata.

Ia pun memproyeksikan kinerja ritel triwulan I-2026 tumbuh positif didorong momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 H, yang menjadi puncak penjualan tahunan. “Ditambah lagi adanya peningkatan konsumsi didukung injeksi tunjangan hari raya (THR), kenaikan upah, dan mobilitas masyarakat yang masif saat liburan,” paparnya. (Suardika/balipost)

BAGIKAN