Produksi beras di Rice Miling Unit Mengwi dalam rangka menyerap gabah petani dan memenuhi kebutuhan masyarakat di Badung.(BP/dok)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Keperluan beras di Kabupaten Badung mengalami lonjakan signifikan menjelang perayaan Nyepi Caka 1948 dan Idulfitri. Data terbaru menunjukkan peningkatan konsumsi mencapai rata-rata 30 ton per bulan, naik hampir dua kali lipat dibandingkan kondisi normal.

Direktur Utama Perumda Pasar Mangu Giri Sedana, Kompiang Gede Pasek Wedha, mengungkapkan lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan dari program pasar murah serta kebutuhan suplai bagi pelaku usaha. “Ada peningkatan kebutuhan akan beras dari pasar murah dan kebutuhan supplai ke usaha,” ungkap Kompiang pada Selasa (24/3).

Ia menjelaskan, sebelum periode hari raya, keperluan beras di Badung berada di kisaran 15 hingga 16 ton per bulan. Namun, menjelang Nyepi dan Idulfitri, angka tersebut melonjak drastis. “Dimana sebelumnya rata-rata 15-16 ton / bulan, kemarin sebelum hari raya sekitar 30 ton/ bulan,” jelasnya.

Baca juga:  Kemenkominfo RI Keluarkan SE Imbauan Nyepi

Di sisi lain, potensi produksi beras di Badung dinilai cukup besar, terutama dari Rice Milling Unit (RMU) yang dikelola daerah. Kompiang menyebutkan, jika seluruh fasilitas produksi dioperasikan secara optimal selama 24 jam, kapasitas produksi bisa mencapai ratusan ton per bulan. “Kalau kami hitung, secara kasar, mungkin kalau beroperasi full, optimal 24 jam, itu kemungkinan bisa sampai 600 ton per bulan,” ujarnya.

Baca juga:  Selama 2020, Segini Korban Lakalantas 

Untuk tahap awal, Perumda Pasar MGS menargetkan penyerapan beras sekitar 500 ton per bulan. Untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan pasokan gabah sekitar 1.000 ton per bulan dari petani lokal maupun wilayah sekitar. “Sementara mencukupi, karena sementara kita mau coba 500 ton per bulan, kebutuhannya 1000 ton gabah per bulan, itu kondisi memang surplus,” ucapnya.

Dalam upaya memperluas penyerapan hasil panen petani, Perumda Pasar MGS juga menjalin kerja sama dengan PT Food Station Cipinang Jaya. Kolaborasi antar-BUMD ini bertujuan untuk menampung surplus produksi beras di Badung sekaligus memperkuat rantai pasok pangan, khususnya di Bali.

Baca juga:  Jelang Pangerupukan, Ini Dilakukan Polresta

Berdasarkan data produksi, sektor pertanian Badung mampu menghasilkan sekitar 57.338 ton beras sepanjang 2025. Sementara itu, kebutuhan konsumsi masyarakat hanya berkisar 49.441 ton per tahun. Kondisi surplus ini mendorong pemerintah daerah untuk memperluas pasar distribusi agar harga tetap stabil dan hasil panen petani terserap optimal.

Langkah strategis ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara produksi dan konsumsi, sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani di tengah meningkatnya permintaan saat momentum hari besar keagamaan.(Parwata/balipost)

BAGIKAN