
SINGARAJA, BALIPOST.com – Ribuan warga memadati simpang empat pusat Kota Singaraja pada Rabu malam (18/03) untuk menyaksikan parade ogoh-ogoh dalam gelaran Pengerupukan Fest #2. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian malam pengerupukan dalam menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948.
Sejak pukul 17.00 Wita, kawasan catuspata Desa Adat Buleleng mulai dipadati warga dari berbagai penjuru Kabupaten Buleleng. Tercatat sebanyak 27 ogoh-ogoh dari 14 banjar adat se-wilayah Desa Adat Buleleng turut ambil bagian dalam parade tahunan tersebut.
Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, hadir langsung membuka parade dengan tradisi khas Buleleng, yakni ngoncang. Dalam sambutannya, ia berharap kegiatan Pengerupukan Fest ke-2 ini dapat berjalan lancar serta menjadi agenda budaya unggulan daerah.
“Segala persiapan telah dilakukan oleh panitia maupun instansi terkait. Saya harap masyarakat dapat menyaksikan dengan tertib dan tetap menjaga keamanan bersama,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mengembangkan kegiatan ini agar memiliki daya tarik yang lebih luas.
“Kegiatan ini tidak hanya menjadi tradisi keagamaan, tetapi juga potensi budaya dan pariwisata. Ke depan, kami ingin mengemasnya lebih baik lagi agar bisa menarik lebih banyak pengunjung,” tambahnya.
Parade ogoh-ogoh mengambil rute dari depan Kantor DPRD Buleleng, melintasi Jalan Veteran, menuju Catuspata Desa Adat Buleleng, dan berakhir di Setra Desa Adat Buleleng. Di titik utama, masing-masing banjar adat menampilkan atraksi ogoh-ogoh dengan durasi 10 hingga 20 menit, menampilkan kreativitas serta pesan simbolik yang memukau penonton.
Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, menjelaskan bahwa setiap banjar telah mempersiapkan penampilan terbaiknya untuk memeriahkan malam pengerupukan.
“Setiap ogoh-ogoh tidak hanya menonjolkan kreativitas seni, tetapi juga mengandung makna filosofis yang berkaitan dengan keseimbangan dan penyucian diri menjelang Nyepi,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa antusiasme masyarakat tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kami melihat partisipasi warga sangat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa tradisi ini tetap hidup dan mendapat tempat di hati masyarakat,” ungkapnya.
Untuk memastikan kelancaran acara, pengamanan dan rekayasa lalu lintas dilakukan secara intensif oleh pihak kepolisian.
Kasatlantas Polres Buleleng, AKP Bachtiar Arifin, menyatakan bahwa kendaraan besar dari arah Denpasar diarahkan untuk parkir di Terminal Sangket mulai pukul 18.00 hingga 24.00 Wita. Sementara itu, kendaraan roda dua dan roda empat dialihkan melalui jalur Sambangan.
“Kami melakukan rekayasa lalu lintas untuk mengurai kepadatan kendaraan serta memastikan masyarakat dapat menikmati parade dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Selain aparat kepolisian, sebanyak 45 pecalang Desa Adat Buleleng juga dikerahkan untuk membantu pengamanan serta menjaga ketertiban selama parade berlangsung. (Nyoman Yudha/balipost)










