
DENPASAR, BALIPOST.com – Pantai Padanggalak, Desa Adat Kesiman, Denpasar Timur, menjadi salah satu tempat melasti di Kota Denpasar, serangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948. Tercatat hingga H-3 Nyepi atau Senin (16/3), ada 27 desa adat yang menggelar melasti di pantai ini dengan beberapa desa adat berasal dari Kabupaten Badung.
Menurut Bendesa Adat Kesiman, Jro Ketut Wisna mengatakan, di Pantai Padanggalak sendiri pelaksanaan melasti digelar selama tiga hari. Dimulai sejak Minggu (15/3) dengan 8 desa adat yang datang untuk melaksanakan upacara melasti, selanjutnya puncak keramaian pada Senin (16/3) sebanyak 19 desa adat yang datang. Sementara itu, untuk H-2 atau Selasa (17/3) belum ada desa adat yang terdata.
Desa adat yang datang ini tidak hanya dari Kota Denpasar, sebagian ada dari Kabupaten Badung. Bahkan menurutnya desa adat dari Badung sendiri ada peningkatan datang ke Pantai Padang Galak tahun ini. “Ada peningkatan seperti Desa Adat Bongkasa, Abiansemal itu yang mungkin tahun-tahun sebelumnya menyasar pantai di wilayah Badung seperti Canggu, Kuta, sekarang kesini,” katanya.
Kedatangan desa adat untuk melasti sudah terjadwal. Dari sisi pengamanannya sendiri, pihaknya menerjunkan pecalang Desa Adat Kesiman, dibantu kepolisian, TNI termasuk dari pecalang desa yang datang untuk melasti. “Karena sekali datang itu umat kan ribuan jumlahnya. Itu yang membuat krodit dan macet. Belum lagi kendaraannya banyak,” katanya.
Untuk menampung jumlah ledakan kendaraan tersebut, Jro Ketut Wisna mengaku pihaknya menambah kantong-kantong parkir semaksimal mungkin. Kantong parkir tambahan berasal dari rumah penduduk hingga lahan kosong yang ada di dekat Pantai Padanggalak. Meski demikian untuk kendaraan jenis truk diutamakan mendapatkan parkir di jalur utama.
Kemudian dari sisi kebersihan Desa Adat Kesiman menyiapkan juru sapu yang dibantu juga yayasan atau komunitas serta menyiapkan pula alat angkut sampah. Selain itu pihaknya juga menyiapkan tim balawista untuk pengamanan di pantai serta tim kesehatan. “Balawista dan tim kesehatan ini kami dibantu oleh Pemerintah Kota Denpasar,” katanya.
Jro Ketut Wisna mengakui, tidak hanya desa adat saja yang bertambah untuk melakukan upacara melasti ke Pantai Padang Galak, jumlah masyarakat termasuk kendaraan juga bertambah dibandingkan dari tahun sebelumnya. Hal tersebut dipengaruhi meningkatkan antusias masyarakat mengikuti upacara melasti. (Widiastuti/balipost)









