
SINGASANA, BALIPOST.com – Sekaa Teruna Teruni (STT) Tri Puspajati Banjar Lebah, Desa Tista, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan menjadi salah satu peserta Festival Singasana III. Dalam Nyepi kali ini, STT mengangkat kisah leluhur warga Pande dalam karya ogoh-ogoh bertajuk Bhisama Kepandean.
Ogoh-ogoh ini mengisahkan pantangan turun-temurun bagi warga Pande untuk tidak mengonsumsi ikan jeleg atau ikan gabus serta buah waluh (labu).
Wakil Ketua STT Tri Puspajati, I Made Pande Saputra, mengatakan tema tersebut diangkat dari cerita rakyat dan bhisama atau pesan suci leluhur yang hingga kini masih dipegang teguh oleh warga Pande di Desa Tista. “Cerita ini kami angkat karena di Banjar Lebah sebagian besar warganya adalah Pande. Bhisama ini mengingatkan keturunan Pande agar tidak mengonsumsi ikan jeleg atau gabus serta buah waluh,” kata Pande Saputra, Jumat (13/3).
Ia juga menunjukkan sinopsis yang menjelaskan terkait tema Ogoh Ogoh, dimana kisah tersebut berawal pada 1556 Masehi saat terjadi pemberontakan terhadap pemerintahan Dalem Bekung yang dipimpin Arya Batan Jeruk. Situasi kerajaan yang kacau membuat warga Pande menjadi sasaran pembunuhan oleh pasukan kerajaan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke berbagai wilayah di Bali.
Dalam pelarian itu, menurut cerita leluhur, warga Pande berdoa kepada Bhatara Pande, Ida Ratu Bagus Pande. Mereka kemudian mendapat perlindungan dengan bersembunyi di sekitar air terjun Sawah Gambangan. Di tempat itu, ikan gabus atau be jeleg yang disebut Jangga Wadita dipercaya menjadi pelindung sehingga para prajurit tidak menemukan tempat persembunyian mereka.
Peristiwa tersebut kemudian melahirkan sumpah yang diwariskan secara turun-temurun, yakni keturunan Pande tidak akan memakan ikan gabus. Selain itu, saat bersembunyi dari kejaran prajurit, mereka juga tertolong oleh tanaman waluh atau labu yang menutupi tempat persembunyian. Dari situlah muncul pantangan lain bagi warga Pande di Desa Tista untuk tidak mengonsumsi buah waluh. “Bahkan menurut cerita tetua, pernah ada warga yang tidak sengaja memakan makanan tersebut, lalu muncul bengkak seperti alergi di bagian mulut,” ujarnya.
Kisah itu kemudian diterjemahkan dalam wujud ogoh-ogoh. Sosok ikan gabus raksasa digambarkan berada di atas goa sebagai simbol pelindung keturunan Pande. Sementara tanaman waluh yang menjalar di sekitar goa melambangkan kekuatan perlindungan dari bahaya. Di sisi lain, digambarkan pula prajurit yang memburu warga Pande namun akhirnya gagal menemukan mereka.
Pande Saputra menambahkan, pembuatan ogoh-ogoh tersebut memakan waktu sekitar dua setengah bulan. Proses pengerjaan dilakukan secara gotong royong oleh anggota STT Tri Puspajati. Saat ogoh-ogoh itu diarak menuju kawasan Taman Bung Karno untuk penilaian tingkat kabupaten perjalanan sempat mengalami kendala.
Ukuran ogoh-ogoh yang besar harus melewati lengkungan gapura Desa Tista serta jalur menuju Kecamatan Kerambitan yang dipenuhi pohon perindang dan kabel melintang. “Berangkat sekitar pukul 00.00 Wita dan baru sampai sekitar pukul 03.00 dini hari. Perjalanan memakan waktu kurang lebih empat jam karena harus sangat hati-hati melewati gapura dan kabel di jalan,” katanya.
Melalui ogoh-ogoh Bhisama Kepandean, para pemuda di Banjar Lebah ingin mengingatkan kembali pentingnya menjaga warisan nilai dan pesan leluhur. Bagi mereka, ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni menjelang pengerupukan, tetapi juga media untuk merawat ingatan kolektif tentang sejarah dan identitas warga Pande di Desa Tista. (Puspawati/balipost)










