
SINGARAJA, BALIPOST.com – Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja dimeriahkan dengan parade budaya. Parade kali pertama ini, melibatkan seluruh kecamatan di Kabupaten Buleleng, Senin (30/3) siang.
Kegiatan ini dipusatkan di Taman Kota Singaraja dan dibuka langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.
Parade budaya tahun ini mengusung tema besar perjalanan hidup pendiri Buleleng, Anglurah Ki Barak Panji Sakti. Untuk pertama kalinya, konsep parade disusun secara tematik dan berurutan, di mana masing-masing kecamatan menampilkan fragmen atau episode berbeda dari kisah tokoh bersejarah tersebut.
Kisah yang diangkat dimulai dari masa kelahiran Ki Barak Panji Sakti, perjalanan hidupnya hingga diutus ke Denbukit, pertemuannya dengan Panji Landung, hingga akhirnya dinobatkan sebagai Raja Buleleng.
Setiap adegan ditampilkan secara teatrikal dengan balutan seni tradisional Bali, mulai dari tari-tarian, gamelan, hingga dramatari kolosal yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, mengatakan bahwa parade budaya ini menjadi momentum penting dalam memperkuat identitas daerah sekaligus mengenalkan sejarah Buleleng kepada generasi muda. Sutjidta menyebut, ini merupakan pertama kalinya kita mengangkat tema perjalanan panjang Ki Anglurah Panji Sakti secara menyeluruh.
“Puncak HUT Kota Singaraja kali ini dirayakan melalui parade budaya yang melibatkan seluruh kecamatan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi sejarah yang dikemas secara kreatif dan menarik bagi masyarakat.
Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster, dalam sambutannya menegaskan bahwa parade budaya tersebut merupakan wujud nyata pelestarian kearifan lokal, adat, dan tradisi Bali.
“Parade budaya ini adalah bentuk konkret dari pelestarian adat dan budaya Bali. Buleleng memiliki sejarah panjang yang sangat penting, dan kegiatan seperti ini menjadi langkah nyata untuk menjaga serta mewariskan nilai-nilai tersebut kepada generasi mendatang,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi kreativitas masing-masing kecamatan dalam mengemas cerita sejarah menjadi pertunjukan yang edukatif dan menghibur.
“Parade budaya ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan,”tutupnya. (Yudha/balipost)










