Petugas imigrasi memberikan informasi kepada warga negara asing di area Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Rabu (4/3/2026). Kantor Imigrasi Ngurah Rai memberikan layanan Izin Tinggal Keadaan Terpaksa (ITKT) serta mengeluarkan kebijakan tarif sebesar Rp0 (nol rupiah) overstay atau keterlambatan izin tinggal bagi para WNA yang terdampak pembatalan penerbangan akibat penutupan ruang udara di sejumlah negara kawasan Timur Tengah karena konflik AS-Israel dengan Iran. (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran memberi dampak pada kunjungan wisatawan ke Bali. Pasalnya negara tetangga Iran, seperti Arab dan Dubai turut terdampak.

Menurut Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali I Gusti Ngurah Suryawijaya saat diwawancarai, Rabu (11/3), keamanan dan kenyamanan wisatawan menjadi faktor utama dalam berpergian. Kondisi perang yang terjadi di wilayah Timur Tengah ini pun tentu berpengaruh pada kunjungan wisatawan mancanagera (wisman) ke Bali.

Selain karena faktor keamanan dan kenyamanan, Bandara di Dubai yang menjadi bandara tersibuk pun terkendala melayani penerbangan termasuk ke Bali. “Penerbangan pun sempat tertunda. Ada sekitar 15 kali itu penerbangan tertunda. Pemerintah Dubai menanggung penumpang disana yang yang belum bisa terbang termasuk ke Bali,” ungkapnya.

Baca juga:  Saling Klaim Kepemilikan Lahan, Jalan dan Tempat Parkir di Disbud Buleleng Ditutup

Di Bali, menurut Suryawan juga mengalami kondisi yang sama, wisatawan yang hendak kembali ke negaranya, terutama yang melalui Dubai menjadi terkendala. Pihak hotel di Bali turut membantu akomodasi untuk wisatawan yang belum bisa kembali ke negaranya.

Demikian penundaan kunjungan ke Bali pun diakuinya terjadi saat ini. Menurutnya banyak wisatawan yang takut berpergian. Meski demikian ada pula wisatawan yang mengalihkan penerbangan melalui Tiongkok, namun harus memperpanjang waktu perjalanan.

Baca juga:  Denpasar Kantongi 45 Hektare Kawasan Kumuh

Saat ini Suryawijaya mengatakan, okupansi atau tingkat hunian kamar hotel masih rata-rata 60 persen.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Bali, I Putu Winastra mengatakan, tidak sedikit wisatawan mancanegara yang membatalkan kunjungannya ke Bali. “Rencana wisatawan yang Bulan Maret sudah batal, bahkan ada yang Bulan April, Mei dan Agustus juga batal,” katanya.

Selama ini kata Winastra, Eropa yang menjadi pasar cukup besar bagi Bali kebanyakan datang melalui dari Timur Tengah. Hal ini tentu akan berpengaruh bagi kunjungannya ke Bali. Disamping itu, dengan terjadinya konflik yang memanas antara tiga negara ini tentu banyak wisatawan menunda perjalannya yang lebih memikirkan keamanannya masing-masing.

Baca juga:  Dikeluhkan Warga, Penyeberangan Gilimanuk-Ketapang Tiap Pagi Tak Beroperasi

Untuk mengalihkan pasar wisatawan dengan menyasar negara lainnya, Winastra mengatakan bukan hal yang mudah dilakukan. Membutuhkan waktu yang lama dan strategi untuk menyasar negara-negara lainnya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN