
DENPASAR, BALIPOST.com – Belasan ribu pecalang dari sekitar 1.500 desa adat di Bali memadati Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (7/3). Mereka hadir dalam Gelar Agung Pecalang Bali 2026 sebagai bentuk kesiapsiagaan menjelang Hari Suci Nyepi Caka 1948 yang tahun ini berdekatan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah.
Dalam momentum tersebut, para pecalang juga menagih janji insentif kepada Gubernur Bali, Wayan Koster. Saat gubernur menyapa peserta apel sebagai Manggala Utama Gelar Agung Pecalang Bali, ribuan pecalang serempak menyuarakan tuntutan mereka.
“Cair, cair, cair,” teriak para pecalang, merujuk pada insentif yang sebelumnya dijanjikan bagi pecalang di seluruh Bali.
Menanggapi hal itu, Koster menyatakan pemerintah provinsi masih menghitung kebutuhan anggaran untuk merealisasikan insentif tersebut. Ia menyebut jumlah pecalang di Bali mencapai sekitar 23 ribu orang yang tersebar di 1.500 desa adat.
“Sedang dihitung jumlahnya. Ada sekitar 23 ribu pecalang se-Bali, tentu membutuhkan anggaran yang cukup besar karena tersebar di 1.500 desa adat. Tapi komitmen itu akan saya jalankan, astungkara tahun 2027,” ujarnya saat diwawancara usai acara.
Koster juga menegaskan Gelar Agung Pecalang digelar untuk memperkuat soliditas dan semangat ngayah para pecalang di seluruh Bali, khususnya dalam menjaga keamanan wilayah adat.
Lebih dari 11 ribu pecalang dari berbagai kabupaten/kota hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka disiapkan untuk mengamankan rangkaian Hari Raya Nyepi yang tahun ini berdekatan dengan perayaan Idul Fitri.
Menurut Koster, kolaborasi pecalang dan aparat keamanan sangat penting agar situasi Bali tetap kondusif. Selain menjaga keamanan selama pelaksanaan adat dan keagamaan, stabilitas daerah juga berpengaruh pada citra pariwisata Bali di mata dunia. (Ketut Winata/balipost)










