Kegiatan pelaksanaan imunisasi campak massal yang digelar di posyandu RT di wilayah Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja diikuti oleh salah satu anak, pada Selasa (7/10/2025). (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sepanjang tahun 2025, tercatat 109 warga terjangkit campak pada anak usia 8–9 tahun di Bali. Kasus tersebut ditemukan dari 563 sampel suspek yang diperiksa di laboratorium.

Kasus positif hampir tersebar di seluruh kabupaten/kota, kecuali Buleleng yang tidak mencatatkan kasus. Kabupaten Karangasem menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni lebih dari 20 kasus.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali kini memfokuskan upaya pada imunisasi kejar guna menutup celah perlindungan terhadap penyakit campak pada anak. Langkah ini dilakukan setelah evaluasi kasus 2025 menunjukkan masih ada anak yang belum melengkapi dosis vaksin, terutama di Kabupaten Karangasem.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan imunisasi kejar menyasar anak-anak yang sebelumnya belum mendapatkan vaksin secara lengkap.

Baca juga:  Belajar dari KLB Campak di Sumenep, Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

“Yang 2025 didominasi di Kabupaten Karangasem. Waktu ada kasusnya kami langsung melakukan respons cepat imunisasi pada anak yang belum mendapat vaksin di wilayah tersebut,” ujarnya, Jumat (6/3).

Untuk menutup kesenjangan imunisasi, Dinkes Bali tidak hanya mengandalkan layanan di posyandu dan puskesmas. Petugas juga melakukan pendekatan langsung ke komunitas serta lembaga pendidikan.

Salah satu strategi yang ditempuh adalah menggandeng Kementerian Agama guna menjawab keraguan sebagian masyarakat terkait keamanan maupun kehalalan vaksin. Dalam beberapa kasus, kegiatan imunisasi bahkan dilakukan di lingkungan tempat ibadah.

“Kami kerja sama dengan Kementerian Agama, kadang anak-anak dikumpulkan di masjid untuk imunisasi. Kami juga datang langsung ke sekolah-sekolah, termasuk sekolah internasional,” jelasnya.

Baca juga:  KONI se-Bali Usulkan Porprov Digelar Tahun 2022

Pendekatan ini dilakukan karena pemetaan Dinkes menunjukkan masih ada orang tua yang menolak vaksin akibat keraguan terhadap keamanan, kehalalan, atau kurangnya pemahaman mengenai pentingnya imunisasi.

Meski kasus sempat cukup tinggi pada 2025, situasi pada 2026 menunjukkan perkembangan positif. Hingga awal tahun ini, Dinkes Bali telah memeriksa 93 kasus suspek campak, namun seluruhnya dinyatakan negatif.

Raka Susanti menilai kondisi tersebut tidak lepas dari tingginya cakupan imunisasi. Pada 2025, imunisasi campak bagi anak usia 9 bulan mencapai 95,77 persen dari target 64.242 anak. Namun, imunisasi lanjutan usia 18 bulan baru mencapai 87,86 persen dari sasaran 64.576 anak.

Baca juga:  Menkes Temukan Dugaan Kasus Gagal Ginjal Baru Kemungkinan Terindikasi Campak

Menurutnya, masih banyak orang tua yang mengira imunisasi campak selesai saat anak berusia di bawah satu tahun, padahal terdapat dosis lanjutan pada usia 18 bulan serta saat anak memasuki usia sekolah.

“Biasanya orang tua berpikir di bawah setahun sudah selesai, padahal di umur 18 bulan anak masih harus mendapat imunisasi lagi, kemudian di anak sekolah ada lagi,” ujarnya.

Meski kasus sempat muncul di sejumlah daerah, hingga kini tidak ada laporan kematian anak akibat campak rubella di Bali karena penanganan cepat terhadap gejala yang muncul. (Ketut Winata/balipost)

 

BAGIKAN