STT Dwi Tunggal Banjar Antap Panjer mengangkat pesan kesadaran 'Eling' dalam Kasanga Festival 2026. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sekaa Teruna Teruni (STT) Dwi Tunggal, Banjar Antap, Panjer, Denpasar, kembali menorehkan prestasi dengan masuk dalam nominasi 16 ogoh-ogoh terbaik Kota Denpasar yang akan tampil pada parade Kasanga Festival 2026 di kawasan Catur Muka, Lapangan Puputan Badung.

Perwakilan STT Dwi Tunggal, Kevin saat ditemui di kawasan Lapangan Puputan Badung, Jumat (6/3) mengaku bangga karena karya ogoh-ogoh yang mereka garap berhasil masuk dalam daftar 16 besar tingkat kota. Apalagi tahun sebelumnya mereka juga berhasil menembus posisi yang sama.

“Kami tentu bangga bisa kembali masuk dalam nominasi ogoh-ogoh terbaik Kota Denpasar dan tampil di Kasanga Festival 2026. Harapan kami tahun ini bisa meraih juara,” ujarnya.

Kevin menjelaskan, proses pengerjaan ogoh-ogoh dimulai sejak Desember 2025 hingga Februari 2026. Pengerjaan dilakukan secara gotong royong oleh para anggota sekaa teruna dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ramah lingkungan.

Baca juga:  Satpol PP Awasi Ketat Penerapan PPKM Darurat

Bahan yang digunakan antara lain rangka rotan serta berbagai material alami lainnya. Untuk merealisasikan karya tersebut, biaya yang dikeluarkan diperkirakan mencapai sekitar Rp90 juta.

Pada tahun ini, STT Dwi Tunggal mengusung tema “Éling”, yang dalam bahasa Bali dan Jawa Kuno berarti ingat dan sadar. Dalam ajaran Jñāna Tattwa, Éling dimaknai sebagai kesadaran diri terhadap swadharma, yaitu tugas dan kewajiban manusia dalam menjaga keseimbangan hidup.

Bagi umat Hindu Bali, kesadaran tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan ajaran Tri Hita Karana, yakni keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam lingkungan (Palemahan).

Namun di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, kesadaran tersebut dinilai mulai memudar. Berbagai bencana seperti banjir yang belakangan melanda Bali, khususnya Kota Denpasar, tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor alam, melainkan juga akibat perilaku manusia yang lalai menjaga lingkungan, terutama dalam memuliakan air sebagai sumber kehidupan.

Baca juga:  Usai Minum Miras, Tukang Tato Akhiri Hidup Saat Live di Medsos

Konsep ogoh-ogoh ini terinspirasi dari kisah dalam Kitab Mahabharata, khususnya pada bagian Wanaparwa, yang menceritakan masa pengasingan Pandawa di hutan selama dua belas tahun.

Dalam kisah tersebut, empat Pandawa yakni Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima bergantian mendatangi sebuah danau untuk mengambil air karena kehausan. Namun mereka tidak menghormati raksasa penjaga danau sehingga kesombongan mereka berujung pada malapetaka.

Berbeda dengan saudara-saudaranya, Yudhistira datang dengan penuh kesabaran dan kerendahan hati. Ia memohon izin kepada penjaga danau serta menjawab pertanyaan dengan bijaksana. Sikap Éling inilah yang kemudian mengungkap bahwa penjaga danau tersebut sebenarnya adalah Dewa Dharma, ayah Yudhistira, yang tengah menguji para Pandawa. Berkat kebijaksanaan Yudhistira, keempat saudaranya pun akhirnya dihidupkan kembali.

Baca juga:  Penggunaan Sound System saat Pengarakan Ogoh-ogoh Ditindak Tegas

Melalui kisah tersebut, STT Dwi Tunggal ingin menyampaikan pesan bahwa bahkan sosok utama seperti Pandawa pun dapat tertimpa malapetaka ketika tidak memiliki kesadaran dan bersikap angkuh terhadap alam, khususnya air.

Karena itu, karya ogoh-ogoh ini mengajak masyarakat untuk kembali Éling, menjaga keseimbangan alam, serta memuliakan air sebagai sumber kehidupan demi kesejahteraan bersama yang dikenal sebagai Jala Sidhi Suvita.

“Seni ogoh-ogoh ini bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga menyampaikan pesan agar masyarakat kembali sadar menjaga alam dan lingkungan,” kata Kevin. (Suardika/balipost)

BAGIKAN