Petugas menyampaikan informasi kepada calon penumpang pesawat di area helpdesk penumpang Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu (1/3/2026). (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Secara keseluruhan, dampak ekonomi akibat konflik antara Amerika- Israel vs Iran sangat bergantung pada durasi konflik dan sejauh mana jalur energi strategis terganggu. Skenario optimis memperkirakan lonjakan harga hanya bersifat sementara dan mereda setelah pasokan kembali normal.

Namun dalam skenario pesimis, eskalasi lebih luas dapat memicu inflasi berkepanjangan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. “Pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi, terutama menjaga stabilitas harga domestik dan daya beli masyarakat, agar dampaknya tidak meluas,” kata pemerhati ekonomi dari Undiknas Denpasar, Prof. Dr. IB. Raka Suardana, M.M., Selasa (3/3).

Sementara itu pengamat ekonomi dari Universitas Warmadewa, Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa, S.E., M.Si. menilai pemerintah Bali perlu menyiapkan strategi mitigasi untuk menghadapi penurunan kunjungan wisatawan asing.

Baca juga:  Promosi Februari-Mei 2017, Kemenpar Bidik Wisman Timteng Pasca Ramadan

“Pemerintah Provinsi Bali bersama para pelaku industri pariwisata harus menyiapkan beberapa langkah taktis untuk meredam guncangan akibat konflik di Timur Tengah,” katanya.

Mitigasi tersebut seperti, diversifikasi dan pergeseran target pasar. Fokus pada pasar domestik mengingat jalur udara internasional yang terganggu, pemerintah kembali memperkuat kampanye wisata nusantara. Wisatawan lokal dijadikan “bantalan” utama untuk menjaga tingkat hunian hotel agar tidak merosot tajam.

Kemudian, prioritas pasar aman (Asia-Pasifik) dengan  meningkatkan promosi ke negara-negara yang rute penerbangannya tidak melewati wilayah konflik, seperti Australia, India, Tiongkok, dan Singapura. Pasar ini dianggap lebih stabil secara logistik dibandingkan pasar Eropa.

Melakukan efisiensi operasional dan stabilitas harga penyesuaian biaya (cost reduction). Kata dia, pihak perhotelan harus melakukan efisiensi pada biaya energi dan bahan baku impor untuk mengimbangi kenaikan harga minyak dunia serta pelemahan rupiah.

Baca juga:  Cuaca Buruk, Nelayan Diminta Berhati-hati Melaut

Selanjutnya paket wisata fleksibel. Caranya, maskapai dan agen perjalanan didorong untuk menawarkan kebijakan pembatalan atau perubahan jadwal yang lebih longgar guna memberikan rasa aman bagi wisatawan di tengah ketidakpastian global.

Melakukan mitigasi risiko penerbangan, koordinasi jalur alternatif. Melalui Kementerian Perhubungan, dilakukan koordinasi dengan maskapai untuk memastikan ketersediaan rute penerbangan alternatif yang menghindari ruang udara Iran dan sekitarnya, meskipun hal ini berdampak pada durasi terbang yang lebih lama.

Layanan crisis center di bandara. Bandara I Gusti Ngurah Rai perlu meningkatkan kesiapan dalam menangani penumpang yang terdampak keterlambatan atau pembatalan akibat eskalasi militer secara mendadak.

Baca juga:  Belasan PMI Asal Karangasem Berada di Negara Konflik Timur Tengah

Tidak kalah penting kata Suyatna, mitigas dengan penguatan ekonomi lokal. Substitusi barang impor, mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor untuk kebutuhan hotel/restoran dengan beralih ke produk lokal Bali. Langkah ini diambil untuk menekan dampak inflasi akibat kenaikan biaya logistik global.

Termasuk stimulus UMKM, menjaga daya beli masyarakat lokal melalui penguatan sektor UMKM agar ekonomi Bali tidak hanya bergantung pada satu pintu (pariwisata internasional). “Pemerintah juga harus memantau arahan dari Kementerian Luar Negeri dan Bank Indonesia untuk menyesuaikan kebijakan moneter serta keamanan bagi warga asing,” sarannya. (Suardika/baliposf)

BAGIKAN