
DENPASAR, BALIPOST.com Konflik Timur Tengah antara Amerika, Israel dan Iran yang meletus beberapa hari lalu setelah serangan militer bersama Amerika Serikat terhadap wilayah Iran langsung mengguncang pasar global. Eskalasi konflik yang terjadi di kawasan strategis energi dunia itu mendorong lonjakan harga minyak mentah dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas Denpasar, Prof. Dr. IB Raka Suardana di Denpasar menjelaskan, harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 10 persen dan mendekati US$80 per barel. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan, terutama jika konflik meluas dan mengganggu jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz.
“Selat Hormuz mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Jika jalur ini terganggu, harga minyak bisa menembus bahkan melampaui US$100 per barel,” ujarnya Selasa (3/3).
Menurut Prof. Raka, di tingkat lokal, Bali juga tidak luput dari dampak. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya operasional industri pariwisata, mulai dari transportasi, listrik, hingga sektor perhotelan dan makanan-minuman. Konsekuensinya, harga paket wisata bisa ikut terkerek naik dan memengaruhi daya saing Bali sebagai destinasi.
Selain itu, kenaikan harga avtur dapat mendorong kenaikan tarif penerbangan internasional, yang berpotensi mengubah pola kunjungan wisatawan. Dalam kondisi tersebut, promosi ke segmen wisatawan domestik dinilai bisa menjadi strategi mitigasi yang lebih stabil.
Lonjakan harga energi dinilai memiliki konsekuensi langsung terhadap inflasi global. Setiap kenaikan US$10 per barel berpotensi menambah tekanan inflasi di negara-negara importir energi, termasuk Indonesia. Biaya produksi dan transportasi meningkat, yang pada akhirnya diteruskan ke harga barang dan jasa.
Menurut Prof. Raka, apabila harga minyak menembus US$100 per barel, tekanan terhadap harga bahan bakar domestik akan semakin kuat. Dampaknya tidak hanya pada inflasi, tetapi juga daya beli masyarakat.
“Inflasi energi yang tinggi memaksa konsumen mengalihkan pengeluaran untuk kebutuhan bahan bakar. Ini bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi karena konsumsi sektor lain ikut tertekan,” jelasnya.
Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang mungkin harus menjaga suku bunga tetap ketat untuk menahan laju inflasi.
Dampak ke ekonomi Indonesia?. Kata dia, sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak, Indonesia berpotensi menghadapi tekanan pada nilai tukar rupiah akibat meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor energi. Hal ini dapat menekan pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun dampaknya diperkirakan relatif moderat dibanding negara dengan ketergantungan energi lebih tinggi.
Mengacu pada simulasi model Global Trade Analysis Project (GTAP), konflik Israel–Iran diperkirakan dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,005 persen dalam jangka pendek apabila berlangsung berkepanjangan. Meski secara statistik terlihat kecil, dampak tidak langsung melalui kanal perdagangan global dinilai bisa lebih kompleks.
“Tekanan bukan hanya dari sisi energi, tetapi juga dari perlambatan perdagangan global dan penyesuaian rantai pasok,” tambahnya.
Tidak hanya itu, gejolak mulai terasa di pasar modal Indonesia, khususnya pada sektor energi. Namun, studi empiris di Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa respons pasar terhadap konflik geopolitik belum menimbulkan abnormal return yang konsisten secara signifikan dalam jangka pendek.
Investor, menurut Raka, masih menunggu kejelasan arah konflik sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif.
Secara regional, negara-negara Asia seperti India dan Jepang yang sangat bergantung pada impor energi berisiko mengalami pelebaran defisit transaksi berjalan dan peningkatan inflasi domestik. Kenaikan harga energi juga berdampak pada biaya transportasi, produksi, dan distribusi di kawasan Asia Pasifik.
Di sisi lain, negara-negara eksportir energi seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Rusia berpotensi menikmati lonjakan pendapatan ekspor akibat kenaikan harga minyak. (Suardika/balipost)










