Seorang pedagang sedang menyiapkan pesanan pelanggan di Unit Pasar Kapal, Badung. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – TPID Badung terus memperkuat langkah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok jelang Nyepi Tahun Caka 1948 dan Idul Fitri 1447 H. Berbagai strategi dilakukan, mulai dari pemantauan pasar, pengawasan distributor, hingga penguatan kerja sama antar daerah guna memastikan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga.

Kabag Ekonomi Setda Badung, Anak Agung Sagung Rosyawati mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pengawasan ekstra sejak minggu pertama Februari 2026. Rata-rata harga komoditas di Badung mengalami kenaikan dibanding Januari. Kenaikan terutama terjadi pada cabai rawit, cabai merah, ikan tongkol, popok bayi, dan angkutan udara.

Sementara, bawang merah, daging ayam ras, wortel, bensin, dan daging babi justru turun. Memasuki minggu kedua Februari, tren kenaikan masih terjadi pada cabai rawit, cabai merah, ikan tongkol, daging ayam ras, dan angkutan udara. Penurunan harga tercatat pada bawang merah, wortel, bensin, daging babi, dan bawang putih.

Baca juga:  Naik dari Sehari Sebelumnya, Tambahan Kasus COVID-19 dan Korban Jiwa

“Kenaikan harga cabai dipicu melandainya pasokan akibat faktor cuaca yang meningkatkan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pasokan cabai Bali berasal dari Karangasem, Bangli, Buleleng, serta Banyuwangi dan Jember,” ungkapnya.

Sedangkan, kenaikan harga ikan tongkol akibat terbatasnya pasokan akibat cuaca ekstrem dan fase bulan purnama yang meningkatkan risiko nelayan melaut. Sementara, kenaikan daging ayam ras dipengaruhi peningkatan permintaan dan terbatasnya pasokan DOC serta distribusi ayam dari Jawa ke Bali.

“Kami rutin menyampaikan laporan harian kepada TPID Provinsi Bali, kepada Kementerian Perdagangan melalui SP2KP, serta kepada Inspektorat untuk diteruskan ke Itjen Kemendagri,” jelasnya.

Baca juga:  Anjing Rabies Gigit Lima Warga di Semarapura Klod Kangin

Menurutnya, pengawasan diperkuat melalui sinergi bersama Satgas Pangan Polri guna mencegah penimbunan maupun gangguan distribusi, termasuk BBM dan LPG. Secara nasional, posisi inflasi Bali membaik dari peringkat ke-4 tertinggi pada Desember 2024 menjadi peringkat ke-18 pada Desember 2025.

“Namun tantangan tetap ada, seperti produksi pertanian yang masih volatil, cuaca Q1 2026, inefisiensi rantai pasok, hingga peningkatan demand MBG,” sebutnya.

Dalam high level meeting, kata Sagung Rosyawati, ditekankan mengenai pentingnya penguatan strategi 4K yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Sebagai langkah konkret, Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana Badung menandatangani nota kesepahaman dengan PT Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) DKI Jakarta pada 5 Februari 2026 di RMU Mengwitani.

Baca juga:  Selama Nyepi, Telkom Matikan Layanan Indihome di Bali

“Kerja sama ini mencakup pemanfaatan sarana produksi, kemitraan pengadaan gabah dan beras, hingga distribusi produk pangan,” ucapnya.

Ke depan, rekomendasi jangka pendek menjelang HBKN meliputi penguatan operasi pasar murah dengan prinsip 3T, akselerasi kerja sama antar daerah, serta komunikasi publik melalui media sosial TPID. Sementara, jangka panjang 2026–2027 difokuskan pada penguatan perumda, modernisasi pertanian, digitalisasi pemantauan harga, serta penguatan cadangan pangan pemerintah.

“Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga, memastikan pasokan aman, serta melindungi daya beli masyarakat Badung menjelang dua hari besar keagamaan tersebut,” pungkasnya. (Parwata/balipost)

 

BAGIKAN