Nyoman Kenak. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Hari Suci Nyepi Tahun Çaka 1948 dan awal Ramadan 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada 19 Maret 2026 berpotensi berlangsung berdekatan. Momentum ini dinilai sebagai ujian sekaligus anugerah untuk memperkuat toleransi dan harmoni antarumat beragama di Bali.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Nyoman Kenak, menegaskan agar kedua hari suci tersebut dapat berjalan khidmat dengan menjunjung tinggi nilai Pawongan, yakni hubungan harmonis antar sesama manusia.

“Kunci agar Nyepi dan Idul Fitri tetap berjalan khidmat adalah Pawongan, yaitu hubungan harmonis antar sesama manusia. Kami mengimbau umat Hindu dan saudara-saudara umat Muslim untuk mengedepankan sikap Tapa Brata dan toleransi,” ujarnya, Sabtu (21/2).

Baca juga:  Ribuan Umat Hindu Hadiri Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan

Ia mengingatkan umat Hindu untuk melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan teguh, yakni amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan. Sementara kepada umat Muslim, PHDI Bali menyampaikan apresiasi atas koordinasi yang selama ini telah terjalin melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Menurutnya, pelaksanaan ibadah seperti tarawih maupun shalat Id selama ini dapat disesuaikan dengan situasi lokal di Bali tanpa mengurangi esensi ibadah itu sendiri. “Inilah wujud kedewasaan dan saling pengertian yang sudah terbangun baik di Bali,” imbuhnya.

Baca juga:  Investor di Hutan Konservasi Kantongi Izin Pemanfaatan Jasa Wisata Alam Dari BKSDA

Peran pecalang dan tokoh masyarakat juga dinilai sangat krusial dalam memastikan keamanan dan kenyamanan semua pihak. Semangat Menyama Braya, kata dia, harus menjadi fondasi dalam menyambut dua hari besar keagamaan tersebut.

Lebih jauh, ia menilai pertemuan dua momentum spiritual ini bukanlah kendala, melainkan anugerah untuk memperkuat Palemahan (hubungan harmonis dengan lingkungan) dan Parhyangan (hubungan harmonis dengan Tuhan).

“Nyepi mengajarkan kita untuk mengheningkan diri, mulat sarira. Sementara Ramadhan dan Idul Fitri mengajarkan kemenangan melawan hawa nafsu. Keduanya memiliki muatan spiritual yang sama, yakni penyucian jiwa dan pengendalian diri,” jelasnya.

Baca juga:  Bali Tuan Rumah Kongres "Wedding Planner" Dunia

Saat Nyepi, lanjutnya, bumi seolah beristirahat. Momentum ini menjadi waktu refleksi bersama tentang bagaimana menjaga alam Bali agar tetap lestari sebagai tanggung jawab seluruh pemeluk agama.

Kenak juga menegaskan bahwa harmoni di Pulau Dewata dapat tegak karena keseimbangan Pawongan, Palemahan, dan Parhyangan terus dijaga. Isu-isu viral maupun hoaks terkait perbedaan penanggalan diharapkan tidak merusak hubungan antarumat yang telah terbangun selama berabad-abad.

“Jangan sampai informasi yang tidak benar memecah kebersamaan kita. Bali kuat karena persaudaraan,” tegasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN