Sapi warga sumberklampok terserang LSD. (BP/Yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Dua ekor sapi milik warga Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, terindikasi terserang penyakit Lumpy Skin Disease (LSD). Kasus tersebut diketahui pada Senin (19/1).

Menariknya, kedua sapi itu diketahui dibeli pemiliknya melalui transaksi online lewat media sosial Facebook.

Pemilik sapi bernama Somad, warga Banjar Dinas Tegal Bunder, Desa Sumberklampok. Ia memelihara dua ekor sapi dan seluruhnya menunjukkan gejala LSD. Sapi tersebut dibeli sekitar sebulan lalu dari penjual asal wilayah timur Bali.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, dikonfirmasi, Selasa (20/1) membenarkan adanya dua kasus LSD tersebut. Ia menegaskan, sapi yang terjangkit merupakan sapi milik petani individu.

Baca juga:  Tambahan Harian Pasien Sembuh Lampaui Kasus Baru, Sayangnya Korban Jiwa Masih Dilaporkan Bali

Ia menjelaskan bahwa beberapa hari setelah sapi tiba, mulai muncul gejala berupa bercak-bercak pada kulit. Bahkan keduanya memiliki gejala serupa. Bahkan Balai Besar Veteriner (BBVet) disebut sudah mengambil sampel kedua sapi milik warga itu.

“Biasanya sapi yang terserang LSD berat itu tidak mau makan dan tampak kurus. Dari pengamatan awal, kemungkinan sapi ini sudah dalam fase pemulihan, meski bekas bercak masih terlihat,” katanya.

Baca juga:  Kunjungi PKB 2025, Wapres Gibran Diajak Swafoto Pengunjung

Terkait penanganan, Dinas Pertanian Buleleng langsung melakukan karantina wilayah Desa Sumberklampok, dengan membatasi lalu lintas keluar-masuk sapi dari desa tersebut. Langkah ini dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Selain itu, pihaknya juga telah menginstruksikan petugas Puskeswan di Kecamatan Gerokgak untuk melakukan pengawasan ketat dan pendampingan kepada peternak. “Kami batasi sapi dari Sumberklampok untuk keluar sampai benar-benar steril. Ini langkah pencegahan,” tegasnya.

Melandrat kembali mengingatkan para peternak agar menghindari pembelian sapi dari luar desa atau luar kabupaten, terutama melalui transaksi online yang sulit dipantau riwayat kesehatannya.

Baca juga:  COVID-19 Melandai, Kasus DBD Justru Meningkat di Tabanan

Dia menambahkan, LSD memiliki tingkat kematian rendah dan sapi masih bisa sembuh dengan perawatan yang tepat. Namun, dampaknya bisa menurunkan nilai jual karena menimbulkan cacat pada kulit.

“Pengobatan relatif murah, fokus pada peningkatan daya tahan tubuh sapi dan pengendalian serangga. Kalau sudah sembuh dan ada rekomendasi kesehatan, dagingnya masih bisa dikonsumsi,” pungkasnya. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN