Upacara Guru Piduka dan Bendu Piduka Desa adat Sanggalangit. (BP/Yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Desa Adat Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, menggelar Upacara Guru Piduka dan Bendu Piduka pada Jumat (16/1). Upacara ini sebagai bentuk penyucian alam dan pengesahan perubahan dresta atau awig-awig yang ada desa tersebut.

Kelian Desa Adat Sanggalangit, I Putu Astawa, dikonfirmasi, Minggu (18/1) menjelaskan, perubahan awig – awig khususnya dresta kematian sudah digodok sejak setahun lamanya. Perubahan dresta ini dilatarbelakangi oleh perkembangan jumlah penduduk yang semakin meningkat setiap tahunnya. Ia menyebut, hingga saat ini krama desa adat sudah mencapai 5000 jiwa lebih.

Baca juga:  Pemerintah Usulkan Perubahan Beberapa Substansi RKUHP

Ia menambahkan, selama ini, pada dresta lama hanya memperbolehkan maksimal dua layon dalam satu hari yang dikubur atau diaben. Apabila terjadi lebih dari dua kematian dalam seharinya, salah satunya harus menunggu hari baik atau dewasa. Hal ini pun dianggap kerap memberatkan krama desa.

“Kalau dulu hanya boleh dua layon dalam satu hari. Sekarang karena penduduk bertambah, kematian juga bisa lebih dari dua. Kalau harus menunggu dewasa, warga menjadi terbebani,” ujarnya.

Baca juga:  Ribuan Warga Kubutambahan Serukan "Koster-Giri Menyala Wii!"

Atas dasar tersebut, desa adat kemudian bersepakat melakukan perubahan dresta. Mengingat aturan ini bersifat sakral dan telah berjalan turun-temurun, perubahan tidak bisa dilakukan sembarangan. Oleh karena itu, sesuai petunjuk sulinggih, desa wajib menghaturkan Upacara Guru Piduka sebagai bentuk permohonan maaf dan penyucian atas perubahan awig-awig.

Astawa menambahkan, proses perubahan ini tidak berlangsung singkat. Paruman krama telah dilakukan berulang kali selama kurang lebih satu tahun, dengan berbagai masukan serta dinamika pro dan kontra di masyarakat.

Baca juga:  Lecehkan Pancoran Pura Beji Monkey Forest Ubud, Dua Turis Minta Maaf

“Ini memang diminta oleh krama sendiri. Kami juga sudah mohon petunjuk sulinggih, dan tidak ada sastra yang melarang, yang penting dilaksanakan pada hari yang baik,” katanya. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN