I Wayan Sarma. (BP/istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli mengimbau para peternak agar tidak sembarangan mendatangkan bibit sapi dari luar daerah. Langkah ini diambil guna mengantisipasi penyebaran penyakit lumpy skin disease (LSD) yang telah ditemukan di Jembrana.

Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma menegaskan bahwa peternak harus benar-benar memastikan asal-usul ternak sebelum membeli bibit baru. Ia meminta peternak untuk menghindari pengambilan bibit dari wilayah Jembrana yang saat ini tengah di-lockdown akibat temuan kasus LSD pada sapi.

Baca juga:  Hindari Terjangkit MSS, Peternak di Desa Ini Rutin Vaksinasi Hewan Ternaknya

“Kami imbau peternak kalau mau mendatangkan bibit baru agar betul-betul diketahui asal-usulnya. Kalau bibit dari Jembrana janganlah dulu, utamakan dari daerah sekitar yang masih aman,” ujar Sarma, Minggu (17/1).

Dijelaskan bahwa LSD merupakan penyakit yang menyerang sapi dan kerbau dengan gejala khas bentol-bentol pada kulit, demam tinggi, serta pembengkakan di leher. Penularannya bisa melalui udara maupun vektor seperti lalat. Penyakit ini bisa mengakibatkan kematian pada sapi jika tidak mendapat penanganan.

Baca juga:  Ketua DPRD Jembrana Lantik PAW Anggota DPRD

Selain selektif memilih bibit, peternak juga diminta memperketat biosecurity kandang. “Akses masuk kandang harus dibatasi dan kebersihan peralatan harus dijaga,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Sarma mengatakan, pihaknya telah menjadwalkan segera mengumpulkan seluruh penyuluh pada Senin mendatang untuk memberikan edukasi teknis mengenai LSD agar informasi pencegahan sampai ke tingkat peternak. Mengenai vaksinasi, kata Sarma pihaknya sejauh ini masih menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah pusat.

Baca juga:  Daging Babi Ilegal Banyak Beredar, Harga Ternak Anjlok hingga Tingkat Terendah

Saat ini, populasi sapi di Bangli sekitar 53 ribu ekor. Populasi terbanyak tersebar di tiga kecamatan yakni Bangli, Susut, dan Tembuku. Sedangkan populasi terkecil ada di Kintamani. (Dayu Swasrina/balipost)

 

BAGIKAN