Seorang perajin sedang membuat perhiasan perak di Gianyar. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kenaikan harga perak yang terjadi dalam sepekan terakhir memukul keras pelaku usaha kerajinan perak, khususnya perajin skala kecil dan UMKM. Harga bahan baku perak dilaporkan melonjak drastis dari kisaran Rp18.000–Rp30.000 per gram menjadi Rp45.000 hingga Rp47.000 per gram.

Pengusaha kerajinan perhiasan perak dan pemilik Bara Gold and Silver Jewelry, Putu Sudi Adnyani saat dihubungi mengaku kenaikan tersebut terjadi sangat cepat dan di luar nalar.

“Seminggu lalu masih Rp30.000 per gram, sekarang sudah Rp47.000. Naiknya sampai Rp17.000 per gram dalam waktu singkat. Ini gila,” ujarnya, Jumat (16/1).

Ia mengatakan para perajin tidak memahami penyebab lonjakan harga perak yang begitu ekstrem. Berbeda dengan emas yang pergerakan harganya diketahui luas oleh masyarakat, kenaikan perak dinilai terjadi tanpa informasi yang jelas.

Baca juga:  Sekda Ungkap Alasan Pemprov Bali Tak Sambut Kedatangan Prabowo

“Kalau emas naik, semua orang tahu. Tapi perak tidak. Yang tahu hanya pemain dan pengrajin. Masyarakat belum paham, sementara kami harus jual karya dengan harga tinggi,” katanya.

Lonjakan harga tersebut berdampak langsung pada biaya produksi. Harga produk kerajinan mengikuti kenaikan harga bahan baku. Selain bahan baku yang mahal dan langka, sejumlah perajin juga terpaksa menghentikan aktivitas produksi sementara.

“Bahan mahal, stok tidak ada, tukang sampai jeda kerja. Dampaknya luar biasa, bahkan lebih parah dari masa Covid-19,” ungkapnya.

Baca juga:  Hari Bumi, XL Axiata - KKP Bersihkan Pantai dan Sosialisasi Aplikasi Laut Nusantara

Menurut Mami Bara biasa ia disapa, kondisi ini membuat banyak perajin memilih berhenti berproduksi demi menjaga kualitas karya.

“Saya jeda dulu. Banyak pengrajin juga jeda karena bahan mahal dan langka. Saya tidak mau main-main dengan kualitas,” tegasnya.

Kenaikan harga bahan baku juga berdampak pada harga jual produk perak. Namun, tingginya harga membuat minat beli konsumen menurun, baik pasar lokal maupun ekspor.

“Teman-teman eksportir juga bilang banyak order yang tidak bisa dikerjakan. Untuk pasar lokal, kalau terlalu mahal, minat konsumen turun,” katanya.

Ia menilai kondisi ini berpotensi mengancam keberlangsungan UMKM perak dan emas.

Baca juga:  Sehari Nihil, Korban Jiwa COVID-19 Bali Bertambah Lagi

“Sangat berpotensi berhenti berproduksi. Perajin tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya memantau harga yang naik setiap hari tanpa penjelasan dari pihak terkait,” ujarnya.

Mami Bara berharap ada kejelasan dan campur tangan pemerintah terkait standar harga bahan baku perak. Ia juga mempertanyakan kemungkinan adanya penimbunan atau permainan pemodal besar.

“Kenapa bisa segila ini? Apakah ada penimbunan? Atau harga dimainkan pemodal besar? Siapa yang bisa menjawab dan ke mana kami harus bertanya?” ucapnya.

Hal sama perajin perak lainnya, Wayan Subaya membenarkan kenaikan harga perak. Harga perak saat ini Rp45.000 per gram sehingga sangat berdampak kepada produksi, harga dan usaha. (Suardika/balipost)

BAGIKAN