Beberapa petugas siaga di atas kapal untuk proses bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Benoa, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar menyampaikan kinerja ekspor Bali melemah. Nilai ekspor barang Provinsi Bali ke luar negeri selama Januari-November 2025 tercatat sebesar US$ 512,45 juta. Realisasi ini turun 11,79 persen dibandingkan periode Januari–November 2024 yang mencapai US$ 580,97 juta.

Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat masih menjadi pangsa pasar ekspor terbesar Bali dengan kontribusi 31,02 persen dari total ekspor kumulatif. Sementara itu, penurunan nilai ekspor terdalam tercatat pada tujuan Australia, yang mengalami kontraksi sebesar 18,52 persen.

“Berdasarkan jenis komoditas, ekspor Bali masih didominasi oleh produk ikan, krustasea, dan moluska dengan pangsa 29,29 persen dari total ekspor. Namun, penurunan terdalam terjadi pada komoditas pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) yang anjlok hingga 39,80 persen, mencerminkan pelemahan permintaan global pada sektor tekstil dan produk fashion,” katanya dikutip Minggu (11/1).

Baca juga:  Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Pemuda Intaran Kobarkan Semangat Puputan

Di sisi lain, kinerja impor Bali menunjukkan tren yang lebih terkendali. Nilai impor kumulatif Januari–November 2025 tercatat sebesar US$ 149,66 juta, turun 0,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 151,02 juta.

Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan pangsa 21,33 persen, sementara penurunan impor terdalam berasal dari Thailand yang turun hingga 35,38 persen. Ia menjabarkan, berdasarkan komoditas, impor Bali didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya dengan pangsa 19,95 persen dari total impor.

Baca juga:  Karena Ini, Kesehatan Anggota Polda Bali Dicek

Penurunan impor terbesar tercatat pada instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis yang turun 38,32 persen, mengindikasikan penyesuaian kebutuhan investasi dan konsumsi alat teknologi. “Dari sisi struktur ekonomi, ekspor Bali pada Januari–November 2025 masih didominasi oleh sektor industri pengolahan yang menyumbang 86,99 persen dari total ekspor,” katanya.

Meski demikian, nilai ekspor sektor ini turun 15,16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, ekspor produk pertanian justru tumbuh 20,52 persen, menunjukkan peluang penguatan ekspor berbasis sumber daya lokal, sementara ekspor sektor pertambangan tercatat turun 12,90 persen.

Sementara itu, stabilitas ekonomi Bali juga tercermin dari perkembangan inflasi. Pada Desember 2025, Bali mencatat inflasi tahunan (y-on-y) sebesar 2,91 persen. Meski menjadi inflasi tertinggi dalam tiga tahun terakhir, angka ini masih berada dalam rentang target inflasi nasional pemerintah sebesar 3,5 persen ± 1 persen.

Baca juga:  Perbaikan Seluruh Jalan Rusak di Bali Lewat Anggaran Perubahan

Agus menyampaikan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Kota Denpasar sebesar 3,45 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Kabupaten Badung sebesar 2,37 persen. Kenaikan inflasi tahunan dipicu oleh meningkatnya harga pada sepuluh kelompok pengeluaran utama.

Secara keseluruhan, meskipun menghadapi tekanan global dan penurunan ekspor, neraca perdagangan Bali yang tetap surplus serta inflasi yang terkendali menjadi sinyal positif bagi ketahanan ekonomi daerah. Ke depan, penguatan ekspor bernilai tambah, diversifikasi pasar, serta sinergi sektor pariwisata dan industri pengolahan diharapkan mampu memperbaiki kinerja perdagangan Bali pada 2026. (Suardika/bisnisbali)

BAGIKAN