Situasi Pelabuhan Gilimanuk, Kamis (8/1) sore. Selama sepekan ke depan, puncak cuaca ekstrem diprediksi masih berlangsung. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang disertai angin kencang melanda kawasan Selat Bali, Kamis (8/1) sore. Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas penyeberangan Jawa–Bali yang sempat mengalami penundaan akibat jarak pandang terbatas karena hujan dan kabut tebal.

Tercatat, penundaan penyeberangan terjadi hingga dua kali. Penundaan pertama berlangsung sekitar pukul 15.20 WITA dan baru kembali dibuka pada pukul 15.55 WITA. Selanjutnya, penyeberangan kembali dihentikan sementara pada sekitar pukul 17.00 Wita hingga 17.45 WITA.

Komandan Pos TNI AL Gilimanuk, Letda Laut Bayu Pato, menjelaskan bahwa hujan deras yang mengguyur perairan Selat Bali menyebabkan visibilitas di tengah laut menurun drastis. Kondisi tersebut dinilai berisiko bagi keselamatan pelayaran sehingga penundaan harus dilakukan.

“Curah hujan cukup tinggi sehingga jarak pandang kapal terganggu. Untuk alasan keselamatan, penyeberangan dihentikan sementara hingga kondisi membaik,” ujarnya, Jumat (9/1).

Baca juga:  Musim Hujan Jaring Nelayan Banyak Tersangkut Sampah

Selama masa penundaan, kapal-kapal yang belum berlayar diminta tetap berada di dermaga. Pengguna jasa juga diimbau menunda naik ke atas kapal sampai cuaca dinyatakan aman. Situasi di kawasan Pelabuhan Gilimanuk saat hujan deras terpantau lengang tanpa antrean kendaraan. Setelah cuaca berangsur normal, aktivitas penyeberangan kembali dilanjutkan.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jembrana memprediksi kondisi cuaca di wilayah Kabupaten Jembrana termasuk di Selat Bali dalam sepuluh hari ke depan masih didominasi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Potensi curah hujan terbilang cukup tinggi dengan akumulasi diperkirakan melampaui 50 milimeter.

Staf Analisis Data BMKG Jembrana, Trayi Budi mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi puncak musim hujan di wilayah Bali, termasuk Jembrana pada bulan Januari ini. Sebagian besar wilayah masih berpeluang diguyur hujan dalam beberapa hari ke depan.

Baca juga:  Ini Jadwalnya! Cek Pemeliharaan Jaringan Listrik di Bali pada 22 Mei 2025

“Curah hujan di atas 50 milimeter berpotensi terjadi hingga sepuluh hari mendatang. Ini sejalan dengan karakteristik Januari sebagai puncak musim penghujan,” jelasnya.

Selain hujan, Trayi menambahkan kecepatan angin saat ini masih berada dalam kategori normal, yakni berkisar antara 5 hingga 15 knot. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap kemungkinan munculnya angin kencang secara tiba-tiba. “Kecepatan angin masih relatif aman, namun peringatan dini tetap perlu diperhatikan apabila sewaktu-waktu dikeluarkan,” katanya.

BMKG juga menjelaskan bahwa pola hujan di wilayah Jembrana umumnya berasal dari arah selatan. Hal ini dipicu oleh pusat konveksi atau proses penguapan yang terjadi di perairan selatan Bali. Untuk wilayah perairan selatan, intensitas hujan diperkirakan lebih tinggi dengan jarak pandang yang cenderung terbatas.

Baca juga:  Makin Turun, Tambahan Kasus COVID-19 Nasional di Bawah 3.000

Di Selat Bali sendiri, dalam sepuluh hari ke depan diprediksi terjadi hujan ringan hingga sedang dengan visibilitas yang pendek. Faktor pegunungan di wilayah Ketapang turut berperan dalam pembentukan awan hujan di kawasan tersebut. “Pengaruh pegunungan di Ketapang membuat awan hujan lebih mudah terbentuk di Selat Bali,” imbuh Trayi.

Adapun tinggi gelombang laut diperkirakan berada pada kisaran 1,5 hingga 2 meter. BMKG mengimbau nelayan, pelaku pelayaran, serta pengguna jasa penyeberangan untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca guna mengantisipasi potensi gangguan akibat kondisi cuaca ekstrem. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN