Kawasan Rest Area Yeh Leh yang berada di perbatasan Tabanan-Jembrana. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Desa Adat Pengeragoan Dangin Tukad di Kecamatan Pekutatan memiliki potensi pariwisata berupa Pantai Yeh Leh. Desa adat yang berada paling ujung timur Kabupaten Jembrana ini mengelola rest area Yeh Leh yang menjadi batas dua kabupaten, Jembrana dan Tabanan. Selama ini kawasan ini sering menjadi objek singgah para pelintas Denpasar–Gilimanuk.

Kawasan di Desa Pengeragoan ini perlahan berubah wajah. Beberapa tahun terakhir, sentuhan penataan landscape membuat suasananya kian asri, berpadu dengan panorama laut yang terbentang di hadapan serta muara sungai.

Rest area yang dikelola Desa Adat Pengeragoan Dangin Tukad ini belakangan semakin ramai. Para pelintas memilih berhenti sejenak, melepas lelah, menikmati angin laut, atau sekadar menyeruput kopi. Ramainya aktivitas itu menjadi pengingat bahwa kawasan ini punya potensi besar, sekaligus tanggung jawab yang tak ringan.

Baca juga:  Alat Berat Tenggelam di Proyek PPN Pengambengan

Bendesa Pengeragoan Dangin Tukad, Made Sugiarta mengatakan, penataan dilakukan secara bertahap terutama terkait kebersihan kawasan yang berada di pinggir pantai ini. Penataan Rest Area Yeh Leh adalah proses panjang yang dilakukan setahap demi setahap. “Kami menata secara mandiri. Bukan hanya bangunan, tapi juga landscape. Tempat sampah akan kami tambah agar pengunjung merasa lebih nyaman,” ujarnya.

Ia tak menampik masih ada kekurangan terkait fasilitas di rest area. Seperti bangunan wantilan, toilet, hingga kios pedagang yang sudah lama dan memang sudah waktunya diperbaiki.

Baca juga:  Gubernur Koster Pastikan Desain Pengembangan Pelabuhan Benoa Sesuai Kearifan Lokal Bali

Sejak awal pengelolaan, desa adat berkomitmen memberdayakan warga lokal. Pedagang diberi ruang untuk berjualan, sementara kebersihan kawasan dijaga bersama. Persoalan sampah, baik dari pengunjung maupun kiriman laut, masih menjadi tantangan. Namun gotong royong rutin terus dilakukan. Dana dari punia pedagang harian dan parkir dimanfaatkan untuk merawat taman dan menjaga kebersihan.

“Pendapatan fluktuatif, ketika musim liburan pasti ramai. Punia dari parkir dan pedagang yang berjualan kita manfaatkan untuk pengelolaan terutama kebersihan,” kata Sugiarta.

Baca juga:  Mobil Ditumpangi Empat Warga Tiongkok Masuk Jurang

Ke depan, selain perbaikan bangunan secara bertahap, penambahan fasilitas dasar seperti tempat sampah menjadi prioritas. Dengan posisinya yang strategis di jalur utama dan pemandangan pantai yang memikat, Rest Area Yeh Leh diharapkan tak sekadar menjadi tempat singgah, tetapi juga wajah perbatasan yang nyaman, tertata, dan berkarakter.

Selain di rest area, kawasan perbatasan Yeh Leh kini juga ramai dengan pedagang atau warung warga lokal yang berjejer di sepanjang jalan Denpasar-Gilimanuk. Dengan ramainya pengunjung, menurutnya, potensi perbatasan ini perlu dijaga. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN