Pemasangan seng di DTW Jatiluwih berimbas pada penurunan kunjungan wisatawan.(BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Kisruh pemasangan seng oleh sejumlah pelaku usaha yang usahanya disegel oleh Pansus TRAP DPRD Bali karena dinilai melanggar aturan berimbas terhadap citra Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Penebel. Dampaknya, kunjungan wisatawan khususnya mancanegara anjlok hingga 80 persen, bahkan memicu pembatalan kunjungan dari pasar Eropa yang selama ini menjadi andalan.

Penurunan paling terasa terjadi saat momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Manajemen DTW Jatiluwih mencatat, turunnya kunjungan terjadi akibat persepsi negatif wisatawan yang mengira kawasan sawah terasering Warisan Budaya Dunia itu tengah dilanda aksi unjuk rasa.

Baca juga:  Ekonomi Bali Triwulan II akan Lebih Baik, Didorong Idul Fitri dan Libur Sekolah

“Turun sampai 80 persen. Ini kondisi yang parah, terutama saat libur Nataru,” tegas Manager DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, Jumat (2/1).

Ia menyebutkan, wisatawan asal Prancis yang selama ini menjadi salah satu pasar utama bahkan membatalkan kunjungan dan mengeluarkan Jatiluwih dari daftar destinasi wisata mereka. “Mereka mengira ada demo. Wisatawan jadi khawatir berkunjung,” ujarnya.

Secara kumulatif, kunjungan wisatawan ke Jatiluwih sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 388.872 orang. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 421.927 kunjungan. Tren penurunan hampir terjadi setiap bulan, dengan penurunan paling mencolok pada Desember 2025 yang hanya mencatat 17.682 kunjungan, turun dibanding Desember 2024 yang mencapai 18.838 orang.

Baca juga:  Jumlah Wisatawan akan Meningkat Tahun Ini

Purna menegaskan, akar persoalan utama terletak pada pemasangan seng oleh oknum pelaku usaha yang disegel karena melanggar ketentuan. Namun, dampaknya justru dirasakan oleh seluruh kawasan dan para petani yang taat aturan.

“Pemasangan seng ini ulah oknum, tapi yang kena imbas justru Jatiluwih secara keseluruhan. Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut,” katanya.

Pihak pengelola pun mendesak pemerintah segera turun tangan mengambil langkah konkret agar persoalan tidak semakin merusak kepercayaan wisatawan internasional. Menurutnya, pembiaran hanya akan memperdalam krisis citra destinasi unggulan Tabanan tersebut.

Baca juga:  Maling Beraksi di Museum TPB Margarana, Barang Bersejarah Raib

Di sisi lain, Purna mengakui kunjungan wisatawan domestik relatif masih stabil. Bahkan, sebagian wisatawan lokal justru datang karena penasaran dengan kondisi yang tengah terjadi di Jatiluwih.

“Kalau domestik masih landai, bahkan ada yang datang karena ingin melihat langsung kondisi di lapangan. Tapi mancanegara yang paling terdampak,” pungkasnya.(Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN