
DENPASAR, BALIPOST.com – Aksi demonstrasi yang melibatkan sejumlah elemen masyarakat, termasuk ojek online (ojol), digelar di depan Mapolda Bali, Jl. WR Supratman No. 7, Denpasar pada Sabtu (30/8) sekitar pukul 10.30 WITA.
Ribuan orang tampak mulai berkumpul pada pukul 09.00 WITA di parkiran GOR Ngurah Rai, Denpasar. Dari banyaknya massa aksi yang ikut dalam demonstrasi untuk menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan insiden tewasnya seorang ojek online, Affan Kurniawan (21) terlindas kendaraan taktis (rantis) milik Brimob Polda Metro Jaya ini, sebagian besar mengenakan jaket ojol.
Aksi yang melibatkan sejumlah LSM, aktivis, mahasiswa, dan ojol, ini sehari sebelumnya sudah melakukan konsolidasi di Kantor LBH Bali, Denpasar. Dalam konsolidasi disepakati aksi demonstrasi yang dipusatkan di Mapolda Bali.
Sejumlah undangan terkait pelaksanaan demonstrasi yang diprakarsai “Bali Tidak Diam” ini disebar di media sosial. Titik kumpul dari pelaksanaan demonstrasi dipusatkan di parkiran GOR Ngurah Rai, Denpasar yang lokasinya berdekatan dengan Mapolda Bali.
Setelah berkumpul, mereka berjalan kaki menuju Mapolda Bali yang jaraknya sekitar 500 meter dari titik kumpul.
Massa Aksi Diminta Tak Anarkis
Sebelumnya, usai apel yang digelar di Makodam IX/Udayana, Sabtu (30/8), Gubernur Bali, Wayan Koster, meminta agar massa aksi tidak anarkis dalam menyalurkan aspirasinya. Ia meminta Kepolisian Daerah Bali dan jajaran untuk mengawal secara humanis aksi demontrasi yang akan dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat agar tidak menciptakan ketegangan baru.
Ia meminta Kapolda Bali, Inspektur Jenderal Polisi Daniel Adityajaya, dan jajaran mengelola aksi tersebut agar aspirasi masyarakat bisa tersalurkan dan tidak terjadi anarkisme.
“Kapolda dan jajaran bisa mengelola dengan baik masyarakat yang menyampaikan aspirasi, jangan sampai menimbulkan ketegangan baru. Agar diterima dengan baik, didengar, dibahas sehingga semua mendapat tempat dan ruang agar membangun Bali bersama-sama,” katanya.
Terkait rencana aksi yang akan dilakukan oleh mahasiswa dan ojek online hari ini, Koster menganggap hal tersebut sebagai bagian hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
“Kita lihat beberapa fenomena belakangan ini sebagai suatu aspirasi itu adalah merupakan hak dari masyarakat. Tentu saya sangat mengapresiasi ada masyarakat yang menyampaikan di Bali baik yang terjadi di daerah maupun skala nasional,” kata dia.
Ia mengimbau agar masyarakat sipil yang melakukan aksi demontrasi menyampaikan aspirasi secara tertib, tidak merusak fasilitas umum, menjaga kondusivitas kemanan Bali sebagai pintu gerbang Indonesia di mata dunia. (Adi/Agung Eka/Suyadnyana/balipost)