
DENPASAR, BALIPOST.com – Health dan wellness tourism disebut sebagai pariwisata berkualitas dan sustainable. Hal itu karena wisatawan yang datang dengan tujuan mencari wisata minat khusus ini memiliki spending yang tinggi dan leght of stay yang panjang.
Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Vinsensius Jemadu belum lama ini mengatakan wellness tourism adalah produk berkualitas karena menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan dan potensial digarap Bali. “Karena mengedepankan keterlibatan perempuan, masyarakat lokal dan raw materialnya juga lokal sehingga dapat melestarikan kearifan lokal, real sustainable dan produknya berkualitas,” ujarnya.
Health dan wellness tourism merupakan bagian dari produk budaya dari pariwisata. Potensi kedatangan wisatawan untuk mencari produk budaya ini adalah 65 persen. Dengan mendukung perkembangan wisata health dan wellness tourism, akan dapat mendukung pertumbuhan pariwisata 8 persen.
Menurutnya, dari sekian banyak industri di dunia saat pandemi Covid-19 yang collapse, industri yang meningkat adalah industri kecantikan (wellness) karena kontribusinya besar selain industri teknologi. “Industri kecantikan menjadi pandemic survivor, pandemic champion karena industri ini meningkat drastis,” ujarnya.
Health tourism terdiri dari 2 jenis yaitu medical tourism dan wellness tourism. Pemerintah kata vinsensius sangat responsif terhadap perkembangan industri ini sehingga pemerintah menetapkan KEK Sanur sebagai bagian dari KEK kesehatan.
“Karena selama ini kita lihat banyak sekali orang Indonesia yang pergi ke luar negeri hanya untuk medical check up dan wellness. Sementara kita dengan kekayaan alam, raw material wellness produknya itu luar biasa tapi kita tidak kapitalisasi, manfaatkan,” ujarnya.
Dengan berdirinya KEK Sanur kesehatan diharapkan semakin meminimalkan orang berobat ke luar negeri, dimulai dari Bali yang diharapkan menjadi hub untuk wellness tourism. “Health tourism termasuk wellness adalah produk berkualitas dan sustainable karena jika orang mau cantik dan sehat dia akan rela mengeluarkan uang berapapun nilainya. Karena itu terkait dengan membahagiakan diri, memanjakan diri sendiri, ini adalah produk kualitas tinggi dengan spending tinggi dan lenght of stay tinggi karena mereka membutuhkan waktu melakukan perawatan,” jelasnya.
Pemerintah berupaya menciptakan ekosistem investasi dan operasional wisata kebugaran sesuai standar yang sehat dengan regulasi. Selain itu, dengan sertifikasi kompetensi juga dilakukan agar tidak terjadi malpraktek dan penyalahgunaan dari layanan kesehatan sehingga dapat melindungi masyarakat.
“Kehadiran health dan wellness mendukung pariwisata karena pendekatannya holistik, karena orang beriwisata ingin sehat fisik dan mental. Keduanya dikombinasi, kebutuhan akan kebugaran dan kesehatan, dengan industri wellness sementara, orang berwisata, menyegarkan pikiran untuk meminimalkan tekanan hidup atau stress,” jelasnya.
Ketua Dekranasda Provinsi Bali Putri Suastini Koster saat menghadiri Beautiverse 2025 di Sanur berharap penyelenggara dapat menonjolkan produk lokal. Pameran health dan wellness tourism dapat menjadi wadah memperkenalkan produk kesehatan tradisional Bali.
Penyelenggara pameran Paulus Herry Arianto mengatakan, ingin mengangkat Sanur sebagai destinasi wisata khusus yaitu penyehatan holistik baik mental maupun fisik, maka dari itu pameran dilaksanakan di KEK Sanur. (Citta Maya/balipost)










