Masyarakat menggelar tradisi Siat Api di Desa Duda, Karangasem. (BP/Istimewa)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karangasem mengusulkan tiga kebudayaan untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di 2024 ini. Hal itu diungkapkan, Kabid Kebudayaan dan Kesenian, Disbudpar Karangasem, I Nyoman Japa belum lama ini.

Japa mengatakan, tiga kebudayaan untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun ini, yakni Tari Baris Panah di Kertha Mandala, Tradisi Siat Api di Desa Duda, dan Tradisi Daa Malon di Ngis. “Kesenian ini diusulkan karena unik, langka, serta memiliki ciri khas. Dan terpenting yakni sebagai upaya melestarikan dan jaga kebudayaan tiap daerah,” ujarnya.

Baca juga:  Tunggu Evaluasi Sore Ini, PVMBG Indikasikan Penurunan Status Aktivitas Gunung Agung

Menurut Japa, tradisi Siat Api Desa Adat Duda diyakini untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan hidup warga. Warga menyakini bahwa wabah penyakit tak hanya disebabkan secara sekala, melainkan juga secara niskala. Tradisi Siat Api merupakan upaya antisipasi yang dilaksanakan secara niskalanya.

“Masyarakat Adat Duda juga memiliki kepercayaan, api merupakan media pelebur aura negatif dan bisa menjadi energi positif yang dapat menciptakan keseimbangan skala dan niskala,” katanya.

Untuk tradisi Daa Malom di Desa Adat Ngis, kata Japa adalah tradisi turun temurun. Tradisi ini dipercaya sebagai pelengkap upacara dan memiliki tugas penting terhadap pelaksanaan upacara. Bagi masyarakat Ngis, tradisi ini merupakan tarian sakral yang dilakukan di Pura Puseh bertepatan dengan Purnama Sasih Kasa nemu Kajeng

Baca juga:  Diterjang Angin Kencang, Dua Bale di Pura Nangka Roboh

“Para Daa Malom dalam menjalankan tugasnya melakukan gerakan tangan seperti menari. Sehingga masyarakat lebih mengenal dengan Tarian Daa Malom. Daa Malom berasal dari 2 kata, yakni Daa berserta Malom. Kata Da atau Daha memiliki arti wanita, dan Malom artinya hijau subur,” imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakannya , untuk tradisi Tari Baris Panah adalah tarian sakral yang ada Kertha Mandala. Kesenian ini merupakan tari upacara yang dipentaskan tiap 6 bulan sekali atau bertepatan Saniscara Kliwon, Wuku Kuningan (Tumpek Kuningan) Piodalan Ida Meraga Taksu Baris Dadap dan Baris Panah mapesengan Ida Bhatara Bagus Ayu Sakti.

Baca juga:  SMAN 1 Denpasar Raih Nilai Rata-rata Tertinggi IPA dan IPS

“Tari Baris Panah ditarikan oleh enam orang laki-laki, berperan sebagai wanita menjadi simbol kesetiaan terhadap pasangannya, sehidup semati dalam melakoni kehidupan di dunia,” tandasnya. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN