Arsip - Asap membubung ke angkasa setelah terjadi serangan Israel di kota Rafah di Jalur Gaza selatan, pada 18 Mei 2024. Korban tewas warga Palestina akibat serangan Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza meningkat menjadi 35.386 orang, kata otoritas kesehatan di daerah kantong Palestina dalam pernyataan pers. Sabtu. (BP/Ant)

ANKARA, BALIPOST.com – PBB meminta Israel untuk menghentikan serangannya ke Rafah. Pelapor khusus PBB untuk Palestina pada Sabtu pun mendesak negara anggota untuk memberlakukan sanksi terhadap Israel bersamaan dengan embargo senjata hingga mereka menghentikan “kegilaannya”.

“Mari kita perjelas. Saat ICJ memerintahkan Israel untuk menghentikan serangannya di Rafah, mereka malah meningkatkan serangan di wilayah itu,” kata Francesca Albanese di X.

Mahkamah Internasional (ICJ) dalam putusan terbarunya memerintahkan Israel untuk segera menghentikan serangan militernya di Rafah, sebuah kota di Gaza selatan tempat lebih dari 1,5 juta pengungsi Palestina mencari perlindungan.

Baca juga:  Calon Wakil Rakyat Mesti Beradu Program Bangun Bali

“Kabar yang saya terima dari orang-orang yang terjebak di sana sangat mengerikan,” katanya, dikutip dari kantor berita Antara, Minggu (26/5) .

“Yakinlah: bahwa Israel tidak akan menghentikan kegilaan ini sampai kita menghentikannya,” tambahnya.

Albanese mendesak seluruh negara anggota PBB untuk “memberlakukan sanksi, embargo senjata dan menangguhkan hubungan diplomasi/politik dengan Israel sampai mereka menghentikan serangannya.”

Pada Jumat, ICJ menegaskan kembali perintahnya sebelumnya dan mengindikasikan langkah-langkah lebih lanjut, termasuk untuk tetap membuka perbatasan Rafah dan memungkinkan akses bagi penyelidik untuk masuk ke daerah kantong yang diblokade tersebut.

Baca juga:  Per Hari, Pengungsi di Klungkung Konsumsi 4,4 Ton Beras

Lebih dari 35.800 warga Palestina telah tewas di Gaza, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan hampir 80.300 lainnya luka-luka akibat serangan Israel sejak Oktober, menyusul serangan yang dilakukan Hamas.

Lebih dari tujuh bulan setelah serangan Israel tersebut, sebagian besar wilayah Gaza hancur di tengah blokade yang melumpuhkan terhadap akses makanan, air bersih dan obat-obatan. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN