Uang
Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Selama periode Ramadan dan Idul Fitri 2024 (Rafi) pada tanggal 1 Maret hingga 5 April, Bank Indonesia Provinsi Bali telah mengeluarkan uang tunai untuk kebutuhan masyarakat Bali sejumlah Rp3,1 T (NetOutflow). Ini berarti peredaran uang di Bali meningkat. Namun, akedemisi meminta agar mewaspadai potensi terjadinya turbulensi ekonomi mengingat ekonomi global yang makin bergejolak.

Deputi Kepala BI Provinsi Bali, IGA Diah Utari, belum lama ini mengatakan, pemenuhan uang Rp3,1 triliun tersebut melalui penarikan oleh bank dalam rangka memenuhi kebutuhan nasabah dan ATM dan penukaran melalui kas keliling. Penukaran melalui kas keliling yang dilakukan oleh Bank Indonesia tercatat sebanyak 5.300 penukar dengan nominal uang yang dikeluarkan sebesar Rp4.954.302.000. “Jumlah yang kita sediakan naik dari Rp3,22 T di tahun sebelumnya ke 3,27 triliun,” ujarnya.

Baca juga:  Korban Investasi Bodong Hingga Miliaran Rupiah Datangi DPRD Bali

Pascahari raya, Akademisi dari Undiknas Prof. IB Raka Suardana mengingatkan untuk berhati-hati terutama untuk pengeluaran yang tidak penting. Sebab, bisa jadi akan ada potensi turbulensi ekonomi dan politik.

Hal itu terlihat dari nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia yang melesat. Sebelum perang terbuka Iran dan Israel nilai tukar Rupiah sudah anjlok tembus Rp16.132 per USD. Sebelum perang terbuka Iran dan Israel, harga minyak dunia melonjak sampai USD90 per barrel dari patokan harga IPC USD83 per barrel.

Baca juga:  IMI Denpasar Jaring Bibit Pembalap Grasstrack dan Motocross

“Hari ini Perang Iran dan Israel sudah terjadi, di sisi lain perang Rusia dan Ukraina belum berakhir. Kita harus siap dengan dampaknya, yang tentu akan sampai ke Indonesia. Bisa jadi harga BBM akan naik, nilai tukar rupiah potensial semakin turun, karena masih banyak pembangkit listrik diesel maka pasti harga listirik juga akan naik,” ujarnya.

Karena BBM dan listrik adalah komponen penting dalam produksi, pergudangan dan distribusi maka seluruh kebutuhan pokok juga dipastikan akan mengalami kenaikan. Ketika harga harga-harga naik, maka berikutnya daya beli akan berkurang.

Baca juga:  Rayakan HUT Bhayangkara, Ini Dilakukan Waka Polresta

Menurunnya daya beli akan memaksa perusahaan untuk menurunkan produksinya, dan penurunan produksi akan berdampak pada PHK massal. Situasi ekonomi akan mempengaruhi politik, situasi politik akan mempengaruhi ekonomi. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN