Tumpukan rumput laut yang bercampur dengan sampah plastik telah menepi di Pantai Kedonganan, Kecamatan Kuta, Senin (29/1). (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Tumpukan rumput laut yang bercampur dengan sampah plastik nampak menutupi pasir di Pantai Kedonganan, Kecamatan Kuta, Senin (29/1). Sejak seminggu lalu, kehadiran rumput laut ini telah menjadi perhatian. Bahkan hampir 20 ton sampah telah berhasil diangkat.

Kordinator Deteksi dan Evakuasi Dini Sampah Laut, DLHK Badung, I Made Gde Dwipayana menyatakan, keberadaan sampah rumput laut telah terdeteksi sejak minggu sebelumnya. Pihaknya telah bekerja sama dengan petugas kebersihan untuk penanganannya.

Baca juga:  Apel Peringatan Dasawarsa Mangupura, Indeks Kebahagiaan Masyarakat Badung Meningkat

“Untuk penanganan sampah di Pantai Kedonganan kami menggunakan dua loader yang berada di Pantai Kuta,” ungkapnya.

Dwipayana menjelaskan bahwa sejak munculnya sampah di Pantai Kedonganan, jumlahnya hampir mencapai 20 ton. Namun, untuk jumlah sampah yang baru muncul belum dapat dipastikan.

Dalam penanganannya, pihaknya menggunakan dua loader yang berlokasi di Pantai Kuta. “Kami memiliki 4 loader dan 3 beach cleaner yang disiagakan di Pantai Kuta,” ucapnya.

Baca juga:  Jadi AgenBRILink, "Sahabat Electrik" Jadi Sahabat Generasi Gaptek

Pihak DLHK Badung tetap menjaga kesiagaan tim kebersihan dan alat berat untuk menangani sampah kiriman. Sejak Oktober 2023, sampah kiriman telah menepi di beberapa pantai di Kabupaten Badung.

Meski volume sampah kiriman saat ini tidak sebanyak sebelumnya, hanya sekitar 150 ton dari total sampah yang telah dibersihkan. “Kalau tahun-tahun sebelumnya ada sekitar 3 ribu ton (sampah kiriman). Kalau sekarang baru ada 150 ton, hampir 5 persennya, Ini dari awal kemunculannya Oktober 2023,” jelasnya.

Baca juga:  Lestarikan Budaya, Digelar "Klungkung Menari"

Dwipayana menjelaskan bahwa sampah kiriman yang menepi di sepanjang pantai bercampur, termasuk ranting pohon, plastik, dan lainnya. Namun, kali ini di Pantai Kedonganan, kehadiran rumput laut yang menepi merupakan peristiwa baru, sementara biasanya yang muncul adalah sampah plastik. (Parwata/balipost)

BAGIKAN