I Gusti Agung Gede Artanegara. (BP/Istimewa)

Oleh I Gusti Agung Gede Artanegara

“La Isla De Bali” (Island of Bali) oleh Miguel Covarrubias, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1937, merupakan sebuah karya klasik yang memberikan pandangan mendalam tentang kehidupan dan kebudayaan Bali pada masa itu. Buku ini menggambarkan Bali sebagai pulau kecil yang belum terkenal seperti sekarang, yang kaya dengan aturan tradisionalnya yang ketat dan budaya yang unik.

Covarrubias dengan detail menggambarkan warisan budaya Bali yang kaya, yang terdiri dari upacara tradisional, tari, musik, dan seni. Setiap aspek kebudayaan, dari ritual keagamaan hingga ekspresi artistik, dilakukan dengan penuh dedikasi dan kekhusyukan. Struktur sosial Bali, dengan sistem adat dan norma-normanya, menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan dunia Barat.

Covarrubias, dengan gaya penulisannya yang romantis dan penuh kekaguman, berhasil menangkap esensi dari kebudayaan Bali yang pada saat itu masih terjaga dari pengaruh luar. Ia menggambarkan Bali tidak hanya sebagai tempat yang indah secara fisik, tetapi juga sebagai masyarakat yang kaya dengan tradisi, spiritualitas, dan keunikan budaya yang menjadikan pulau ini begitu istimewa dan mempesona.

Buku ini tetap menjadi sumber referensi yang penting bagi siapa saja yang ingin memahami kekayaan dan kedalaman kebudayaan Bali sebelum era modernisasi dan globalisasi. Gambaran itu tentu kita tidak peroleh sekarang. Bali yang sudah dipengaruhi pariwisata dan modernisasi menyebabkan beberapa perubahan dengan cara ritual yang dilakukan dan seringkali menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan ekspektasi wisatawan.

Baca juga:  Mengatasi "Isomorphic Mimicry" Dalam Pendidikan

Pengaruh global juga mempengaruhi ekspresi artistik, dimana seniman lokal mulai memadukan unsur-unsur modern dan tradisional, menciptakan karya atas nama komersialisasi. Hubungan harmonis antara masyarakat Bali dan alamnya seperti halnya subak sedang menghadapi tekanan modernisasi oleh pembangunan dan perubahan iklim.

Pertanian, yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi, sekarang bersaing dengan industri pariwisata dan pembangunan infrastruktur. Saat ini, industri pariwisata telah mendominasi ekonomi Bali, membawa manfaat ekonomi namun juga tantangan. Pariwisata telah merubah banyak aspek kehidupan di Bali, termasuk meningkatnya komersialisasi budaya dan masalah lingkungan. Bali saat ini menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan antara pelestarian budaya dan kebutuhan ekonomi.

Ancaman Degradasi

Bali kini menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi yang membawa potensi hilangnya tradisi dan spiritualitas. Kehidupan spiritual dan kebudayaan, yang pernah berakar kuat dalam praktik sehari-hari, mulai tergerus oleh perubahan zaman. Ritual keagamaan yang kaya dan kompleks, perlahan mengalami pengurangan dalam pelaksanaannya, disederhanakan demi efisiensi atau terpengaruh oleh kebutuhan pariwisata.

Seni tradisional seperti tarian sakral dan musik gamelan menghadapi kesulitan dalam menarik minat generasi muda, yang lebih terpapar dan tertarik pada budaya global. Kerajinan tangan yang dahulu dibuat dengan teknik turun-temurun kini bergeser ke metode produksi massal, mengorbankan kualitas dan keaslian.

Arsitektur tradisional Bali yang unik pun perlahan digantikan dengan desain modern yang kurang memperhatikan nilai-nilai estetika dan spiritual lokal. Perubahan ini tidak hanya mengancam identitas budaya Bali, tapi juga keseimbangan harmonis antara manusia, alam, dan dunia spiritual yang selama ini menjadi ciri khas pulau ini.

Baca juga:  Transformasi Kendaraan Listrik ”Solusi Kurangi Polusi"

Fenomena komersialisasi budaya telah menjadi topik yang sering dibahas, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap warisan budaya pulau tersebut. Komersialisasi ini terutama terlihat dalam cara aspek-aspek budaya Bali – mulai dari seni, ritus, hingga praktik tradisional – diubah menjadi produk yang dapat dijual demi keuntungan ekonomi.

Paragraf berikut menguraikan lebih lanjut tentang aspek komersialisasi budaya di Bali. Komersialisasi budaya di Bali telah mengubah wajah pulau yang dikenal karena keindahan alam dan kekayaan tradisinya. Transformasi ini paling terlihat dalam industri pariwisata, dimana tarian, musik, dan upacara keagamaan yang tadinya sakral dan penuh makna spiritual, kini seringkali dipentaskan sebagai hiburan bagi wisatawan.

Dampaknya bukan hanya pada penyesuaian waktu dan format penyajian, tetapi juga pada esensi dan autentisitas tradisi tersebut. Demikian pula, kerajinan tangan seperti ukiran kayu, tenun endek, yang dahulu dibuat dengan proses tradisional dan memakan waktu lama, kini sering diproduksi secara massal dengan kualitas yang bervariasi untuk memenuhi permintaan pasar.

Bahkan, praktik spiritual seperti penyembuhan tradisional dan meditasi juga tidak luput dari pengaruh komersial, seringkali dijual sebagai bagian dari pengalaman ‘eksotis’ Bali. Kemunculan toko-toko suvenir dan galeri yang menjual replika dari artefak budaya menandakan hilangnya keunikan dan nilai asli yang melekat pada objek-objek tersebut.

Ironisnya, sementara kegiatan-kegiatan ini memberikan kontribusi ekonomi, mereka juga membawa risiko pengikisan budaya yang mendalam dan mengancam keberlangsungan tradisi otentik.

Baca juga:  Membuka Belenggu UMKM

Pertumbuhan pariwisata yang pesat di Bali telah menimbulkan sejumlah dampak negatif, baik pada lingkungan alam maupun pada keberlanjutan budaya lokal. Secara ekologis, peningkatan jumlah wisatawan berkontribusi pada kerusakan lingkungan, seperti polusi, penurunan kualitas air, dan kerusakan habitat alami. Pariwisata juga mengakibatkan tekanan pada sumber daya alam, termasuk konsumsi air dan energi yang berlebihan, yang sering kali tidak berkelanjutan.

Dari segi sosial dan budaya, pariwisata membawa perubahan dalam struktur masyarakat. Komersialisasi budaya, seperti dijelaskan sebelumnya, mengurangi keaslian dan kedalaman makna dari praktik budaya dan ritual. Selain itu, pariwisata dapat mengakibatkan gentrifikasi, di mana penduduk lokal terdesak dari rumah dan tanah mereka karena kenaikan harga properti dan biaya hidup.

Terdapat juga pergeseran dari ekonomi tradisional, seperti pertanian, ke pekerjaan dalam sektor pariwisata, yang seringkali lebih tidak stabil dan bergantung pada kondisi ekonomi global. Lebih jauh, pariwisata dapat menciptakan ketidakseimbangan sosial, di mana pendapatan yang dihasilkan tidak merata dan menyebabkan kesenjangan ekonomi.

Hal ini juga memicu perubahan dalam nilai-nilai dan gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda, yang mungkin lebih tertarik pada peluang ekonomi yang ditawarkan pariwisata daripada memelihara tradisi lokal. Secara keseluruhan, sementara pariwisata telah memberikan manfaat ekonomi bagi Bali, dampak negatifnya menimbulkan tantangan serius bagi keberlanjutan lingkungan dan pelestarian budaya pulau ini.

Penulis, Bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV

BAGIKAN